Iya, sebagian kisah romance atau percintaan di dalam novel itu memang klise. Ceritanya pasti tidak jauh dari :
1. Kenalan - saling tertarik - tukeran nomer ponsel - PDKTan - jadian
Jika novel dengan konsep demikian berakhir happy ending, maka ia akan tuntas saat si pemeran utama mendapatkan tambatan hatinya.
Dan sebaliknya, jika novel berakhir sad, maka setelah jadian akan ada beberapa konflik yang legi-lagi klise, hingga menyebabkan mereka berpisah.
2. Awalnya saling iri, benci, jijik, tapi ujung-ujungnya jadian
Banyak novel yang saya baca jalan ceritanya model begini. Misal ada cewek-cowok gak sengaja tabrakan di mall. Si cewek yang gak cantik-cantik amat nabrak si cowok yang ceritanya ganteng banget, dan sialnya si cewek yang kurang cantik ini malah numpahin makanan atau minuman apa gitu ke si cowok ganteng yang pastinya angkuh banget. Ya jadilah si cowok ngomel-ngomel gak jelas, bersumpah-serapah ria sambil nunjuk-nunjuk si cewek. Si cewek yang emang ngerasa salah gak bisa bertindak apa-apa, tapi dongkol setengah mati, rasanya pengen ngebejek-bejek wajah tengil si cowok. Eh ternyata takdir mempertemukan mereka kembali di lingkungan yang lebih intim : sekolah. Mereka bakal satu sekolah, atau malah satu kelas. Awalnya mereka saling perang-perangan, ujungnya cinta-cintaan. Klise.
(anyway, kalian capek gak bacanya? -_-)
3. Kisah cinta antara si miskin dan si kaya
Seolah belum cukup dengan ide cerita yang senada, penulis biasanya menempatkan si cewek sebagai si miskin, sedangkan si cowok sebagai si kaya. Entah mengapa.
Ceritanya pasti berputar di mereka saling mencintai, tidak dapat dipisahkan. Tapi apa mau dikata. Orangtua si cowok gak akan setuju, ujung-ujungnya menghina si cewek bahkan keluarga si cewek. Kalaupun mereka nekat nikah, rumah tangganya gak akan bahagia. Orangtua si cowok gak akan berhenti mengusik (dengan cara judesin menantunya lah, kenalin anaknya ke cewek anak keluarga tajir lah, dan segala usaha supaya anaknya pisah dari si cewek miskin) sampai dapat azab dari Tuhan.
4. Antara persahabatan dan cinta
Ini juga biasanya seputar :
a. asalnya sahabatan malah cinta-cintaan
b. pilih sahabat atau pacar
c. pacar dan sahabatnya main belakang (jleb banget dah!)
Semua tema percintaan alurnya memang selalu demikian. Klise.
Menurut saya, sekarang ini, akan sulit menemukan novel romance dengan ending tak terduga, twist. Sulit.
(Saya sedang membicarakan teenlit ya, bukan yang lain).
Pernah suatu hari saya pergi ke toko buku bersama Fian dan membaca beberapa novel yang segelnya sudah dibuka. Hal pertama yang saya lakukan adalah membaca blurb di bagian belakang sampul. Hmm... baru membaca blurb saja saya sudah dapat menebak bagaimana novel tersebut akan berakhir. Tapi tak urung saya membaca sampai tuntas juga.
Jalan cerita.
Ya, jalan cerita.
Saat pembaca sudah bisa menebak bagaimana akhir kisah yang dibuat penulis, cobalah penulis bermain dengan konsep alur yang matang. Tolong jangan gunakan alur yang datar dan monoton, hingga membuat pembaca malas duluan. Pembaca butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang menghibur. Bukan sesuatu yang dramatis, akan tetapi realistis.
Kita bisa menganalogikan dari pengalaman kita menjalin hubungan dengan seseorang. Saya misalnya.
Saya pernah berpacaran selama empat kali. Dan saya pikir, selama empat kali berpacaran dengan orang yang berbeda-beda tersebut, saya tidak pernah mengalami kisah yang serupa. Semuanya berbeda. Ada yang hambar, menyenangkan, menggebu-gebu, dan lain sebagainya. Tapi intinya sama : saya dan keempat cowok itu berpacaran! Nah, begitupun dengan romance teenlit. Intinya sama kisah percintaan remaja. Tapi bagaimana penulis menyajikan cerita yang lain daripada yang lain, itulah poin paling penting.
So guys, sebagai sesama penulis yang masih belajar, cobalah kita menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang layak dikonsumsi publik. Sesuatu yang unik.
Insya Allah, buku anda akan berkesan di hati pembaca :)
Well guys, tetap menulis!
Babay!!!
0 comments:
Post a Comment