Pagi yang Asing

Monday, 24 March 2014
Hari yang melelahkan membuat kantuk cepat menyerang. Aku terlelap tanpa sempat membalas pesan Fian. Dengan ponsel masih dalam genggaman, ragaku berpetualang ke alam mimpi. Sesekali aku terbangun, membuka pesan masuk baru, membaca tanpa benar-benar memahami apa yang kulakukan, kemudian terlelap kembali.

Subuh, pukul 04.00, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ternyata Ayah.

"Mau kemana?" tanyaku heran melihat penampilan Ayah yang pagi itu sudah sangat rapi.

"Bapak mau berangkat sekarang," jawab Ayah.

Belum sepenuhnya sadar, aku bangkit dari atas ranjang lalu mengikuti Ayah ke belakang. Di sana telah tersedia tas dan sepatu Ayah.

Ayah bekerja di Depok. Keberadaannya di Purwakarta semata karena kesehatannya terganggu.

Aku menatap, menyaksikan bagaimana Ayah mengenakan sepatunya sambil menyampaikan beberapa pesan untukku. Aku tahu Ayah belum sembuh benar, namun beliau memaksakan diri berangkat hari ini.

Dan perasaan asing tersebut mencuat begitu saja. Saat Ayah benar-benar menghilang dari pandangan mata, mendadak dadaku disesaki berjuta perasaan gelisah tak terdefinisikan.

Bukan firasat, bukan. Aku yakin Ayah akan baik-baik saja. Beliau selalu hadir dalam setiap doa-doaku. Aku harap Ayah baik-baik saja. Tapi rasa gelisah ini...

Rasa gelisah ini tak kunjung lenyap.

Selepas mengunci pintu kembali, aku bergegas memasuki kamar. Menyalakan lampu yang semula padam. Bergelung di atas tempat tidur. Menunggu adzan berkumandang.

Masih gelisah.

Kutatap ponsel dan laptop yang tergeletak di sampingku.

Deg!

Untuk pertama kalinya seumur hidup, aku merasa beruntung masih memiliki Fian hingga detik ini. Sama halnya dengan yang ia katakan di bawah naungan payung ungu, saat kami berjalan beriringan di sepanjang Pasar Jumaah.

"Bi, aku bener-bener beruntung banget bisa memiliki kamu," katanya.

"Kenapa?"

"Kamu mengubah aku jadi lebih baik."

"Lebih baik gimana contohnya?"

"Yaaa... lebih baik aja. Setelah sama kamu, aku jadi semangat belajar, semangat bantuin Bapak, semangat segala-galanya deh. Kamu membawa makna baru bagi hidup aku."

Disaksikan jutaan bulir air hujan di sekeliling kami, seraya merangkulkan lengan kanannya di bahuku, Fian menyanyikan sebuah lagu untukku. Indah, manis, menyejukan.

Fian dan Ayah adalah dua sosok lelaki yang sangat kucintai. Entah sejak kapan aku mulai sadar mereka memiliki beberapa persamaan. Sifat, aroma, sikap, dan lain-lain, dan lain-lain.

Bagaimana aku mencintai Fian memang berbeda dengan bagaimana aku mencintai Ayah. Fian pacarku, Ayah ayahku.

Akhirnya aku mengerti perasaan asing apa yang menderaku sejak tadi. Rindu. Aku merindukan kekasih yang baru saja kutemui kemarin. Rindu ini selalu mendera.

Aku bersyukur masih memiliki dia hingga detik ini. Jika tidak, lalu pada siapa aku mencurahkan seluruh rasa rinduku ini? Rindu tak berbalas itu sakit loh, Kawan.

Maka, detik itu juga aku mengirim pesan kepada Fian. Salam rindu dariku.

Fian membalas : Kangen kamu my favourite girl :*

0 comments:

Post a Comment