Hari Jadi Ke-5 dan Sejuta Rintangan di Dalamnya (bagian 2)

Sunday, 18 August 2013

Menjumpai seseorang di masa lalu

Cowok yang tengah mengendarai motor putihnya itu tersenyum manis padaku. Aku membalasnya dengan senyum lebar, tak menyangka dapat bertemu dengannya lagi.

“Apa kabar?” tanyanya begitu menghentikan motor tepat di samping kananku. Tangan kanannya terulur.

Aku menyambut uluran tangannya seraya menjawab, “Kurang baik.”

Ekspresi cowok itu sedikit berubah. “Oh ya? Kurang baik kenapa?” katanya masih sambil menggenggam tangan kananku.

“Makin kurus.”

Ia memerhatikanku sejenak, lalu berkata, “Tapi makin lucu.”

“Lucu? Apanya?”

“Kamunya. Makin kayak anak kecil, lucu.”

Tak sadar, seulas senyum terukir di bibirku.

Ia mengajakku pergi ke studio, menemaninya latihan band. Sebuah ajakan yang langsung kuiyakan.

Bagaimana kami bisa bertemu? Entahlah, aku sendiri tidak paham. Pertemuan tanpa rencana ini berlangsung begitu saja. Semua yang terjadi begitu aku putus dengan Fian memang di luar prediksi. Menghilang dari hidup Fian sudah kurencanakan, tapi hal-hal yang terjadi dalam prakteknya bukan bagian dari rencanaku.

Tepat pukul 22.30 dia mengantarku pulang. Perjalanan dengan secuil insiden unik yang membuat kami tertawa bersama-sama.

Aku turun dari boncengannya, mengucapkan serangkaian ucapan selamat tinggal dan hati-hati.

Dan kami kembali berpisah. Benar-benar berpisah.

Tadi kami membicarakan banyak hal. Lebih banyak dari dulu, saat kami masih berpacaran. Kini aku lebih terbuka mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku. Seperti saat aku mengatakan : “Kalo di foto A jelek, cakepan aslinya.” Padahal dulu aku mana berani bilang begitu.

Tawanya langsung meledak. “Bener, kan? Baru aja A ngomong.”

Lewat pertemuan ini pun aku jadi tahu bahwa anggapanku selama ini keliru. Selama ini aku selalu mengira dia suka Laruku, tapi ternyata tidak. Dia hanya suka style ala Jepang, bukan suka Laruku.

Ya ya, aku sudah tahu dia suka sesuatu yang berbau Jepang (anime, manga, dan Ost anime). Cuma kukira karena dia suka J-rocks, maka otomatis dia suka Laruku. Haha, aku salah. Baiklah tak apa. Toh aku suka Laruku bukan karena dia juga suka. Lagu-lagu kerennya yang membuatku suka Laruku.

Sadar atau tidak, topik obrolan kami dominan membahas Fian. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana ucapannya sesaat setelah ia melihat-lihat foto Fian satu album penuh.

“Cowok kamu itu… siapa tadi namanya?”

“Fian?” jawabku bernada tanya.

“Iya. Dia… tau A Rooo?”

Aku diam.

Melihatku hanya diam, dia meneruskan. “Atau gak tau sama sekali?”

“Tau ko… dulu kan aku pernah bikin status pake nama A. Jadi dia tanya A Rooo itu siapa?”

“Trus kamu jawab apa?”

“Mantan pacar.”

Dia langsung cengengesan gak jelas. Waktu kutanya kenapa, dia berkata, “Nggak. Keceh aja kedengerannya. Oh ya, dia pernah nanya-nanya tentang A Rooo ga?”

“Iya. Nanya A Rooo orang mana…” (aku nyebutin beberapa hal, dan aku lupa apa aja itu).

Kesunyian memenuhi udara. Dia menggumamkan sesuatu. Tidak jelas, aku tidak tahu barusan dia bilang apa.

“Mmmm…” Dia menatapku. “Dia gak nanya yang lain? Kayak misalnya kita pernah ngapain aja?”

Otakku langsung menyimpulkan yang dimaksud dengan ‘pernah ngapain aja’ itu pastilah berhubungan dengan kontak fisik ‘berlebih’ antara laki-laki dan perempuan. “Iya. Aku jawab nggak pernah ngapa-ngapainjujur kan? Kita emang gak pernah ngapa-ngapain kan?”

Ia mengiyakan. “Emang. Kamunya kan pendiem banget. Akunya juga gak berani macem-macem. Aku masih imut banget kayak anak kecil.”

Kami tertawa kompak.

Jujur saja, pertemuan ini terasa sangat menyenangkan. Baru kusadari ternyata aku merindukan saat-saat berada di sampingnya. Rasanya ingin menghentikan waktu barang beberapa jam agar kebahagiaan ini tidak cepat berakhir.

Kala membuka pintu rumah, entah mengapa aku merasa ini adalah pertemuan terakhir kami. Kami tidak akan pernah seperti ini lagi. Inilah yang terakhir.

Mendadak perasaanku diliputi kegamanangan. Ada yang lain di hatiku. Sesuatu yang selama ini luput dari pengamatanku.

Setelah sekian lama baru kali ini aku menyadari seseuatu : aku nyaman berada di sampingnya. Lebih nyaman dibanding saat aku bersama Fian.

Begitu aman di dalam rumah, pintu kembali kukunci. Semua orang sudah terlelap, aku mengendap-endap ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ketika kepalaku telah berada di atas bantal, apa yang baru saja kualami terputar kembali dalam benakku. Lagu The 4th Avenue Café memenuhi udara. Perasaan Déjà vu mengiringi setiap desah napasku. Tahu-tahu badanku sudah berguncang hebat. Aku menangis. Menangis menyesali diri.

Di mana rasa bersalahku? Mengapa aku tidak menyesal telah mengkhianati Fian? Fian yang jauh di sana tengah menanti kabar dariku…

Kembali

Pagi-pagi buta aku pulang ke Purwakarta. Meninggalkan 3 kota yang telah kusinggahi selama kurang lebih 4 hari ini. Meninggalkan kota juga kenangan yang tertinggal di dalammnya.

Aku pulang dengan keyakinan dan tekad baru. Tidak akan kubiarkan semuanya bertambah runyam. Aku pulang demi Fian, demi kelangsungan hubungan kami, demi kebahagiaan kami.

24 Juli 2013, kejutan!!!

“Astagfirullahaladzim!” Seruan terkejut itu keluar dari bibir Fian. Yeah, dia terkejut melihatku tiba-tiba muncul di luar jendela kamarnya.

“Hai,” sapaku pelan berusaha menahan tawa. Air muka Fian saat itu benar-benar lucu.

Fian buru-buru menyingkirkan ponsel dalam genggamannya ke atas kasur. Aku tahu dia baru saja mengirim SMS pada seseorang, cewek tepatnya. Tadi aku sempat melihat delivery report-nya.

Dia menempelkan tangannya di kusen jendela, berhadap-hadapan denganku. “Mau apa lo ke sini?” tanyanya. Pertanyaannya tidak mencerminkan isi hatinya. Dia jelas-jelas tahu maksud kedatanganku ke mari untuk apa dan tentu saja senyumnya menunjukkan dia bahagia karenanya.

“Mau buka bersama, kan?” Jauh sebelum kekacauan ini terjadi, kami memang berencana untuk buka puasa bersama. Bahkan kami sudah menentukan di mana tempatnya. Kami bukannya belum pernah buka bersama sebelumnya. Hanya saja yang ini berbeda. Acara ini untuk merayakan hari jadi kelima kami!

“Emang mau jadi?”

Aku mengangguk.

“Lo kemana aja? Gue galau, jadinya update tiap hari.”

“Aku tau, kok.”

Kami pun berbincang-bincang sambil berdiri. Aku tidak ingat apa saja yang kami diskusikan, semua topik mengalir begitu saja. Akhirnya aku mencoba meminjam ponselnya, ingin tahu seperti apa isi SMSnya dengan cewek-cewek lain itu.

“Jangan, nanti aja.” Ia berusaha mencegah.

“Pinjem, dong. Gue tau ko, elo SMSan sama cewek lain. Di facebook aja kirim-kirim pesan ke cewek, colek-colek cewek.”

Dia tertawa malu. “Ya udah atuh, Dev. Jangan dibahas-bahas lagi. Malu.”

“Pinjem, dong!”

“Jangan, ih. Emangnya lo siapa?”

Oke, aku tahu aku bukan siapa-siapanya lagi. Tapi kukira…

“Oh, ya udah,” ujarku seraya membalikkan badan, siap-siap pergi.

“Lo mau ke mana?” tanya Fian.

“Pulang.”

“Jangan.” Ia mencegahku pergi. Tangannya melingkari bahuku. Ia memelukku dari belakang. “Gue emang SMSan dan inbox-an sama cewek lain. Tapi kalo lo mau balik lagi sama gue, gue bakal tinggalin mereka. Gue bakal setia sama lo.”

Tentu saja aku percaya. Bahkan sebelum ia mengatakannya.

Express Chicken

Di samping Giant ada tempat makan bernama ‘Express Chicken’. Kami makan di sana. Aku memesan ayam goreng, sedangkan Fian memesan nasi goreng. Masing-masing 1 porsi. Fian yang mengantri di konter, aku hanya duduk menunggu sambil browsing.

Aku tidak akan menceritakannya secara rinci. Satu hal yang mesti kalian tahu, aku sangat menikmati makan bersama ini. Sederhana namun menorehkan kesan mendalam.

Selesai makan, Fian mengajak bermain ke Time Zone. Aku mengiyakan cepat. Kami pun berjalan berdampingan menuju lantai 3 Giant. Lengannya merangkulku hangat.

Kami bermain-main di atas sana lumayan lama. Permainan paling asik yang kami mainkan bersama adalah basket ball. Apalagi saat kami tanding skor. Ini aneh, skor akhir kami seri (padahal awalnya aku tertinggal cukup jauh).

Kurang dari pukul 19.30 kami telah kembali ke rumah Fian. Lagi-lagi kami mengobrol seru. Haha, jika dengan orang tersayang, walau hanya mengobrol rasanya akan menyenangkan sekali. Seperti yang tengah kualami saat ini.

“Gue tuh bener-bener sayang sama lo, Dev. Gue gak mau kehilangan lo. Gue emang nge-inbox, colek, dan SMSan sama cewek lain. Tapi ketika ngelakuinnya gue ngerasa hambar. Gak ada feeling sama sekali. Gue gak bisa ngeboongin kalo cuma lo yang ada di hati gue.”

“Tapi kamu sering nyia-nyiain aku.”

Fian menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “Aku janji gak akan nyia-nyiain kamu lagi. Aku bakal ngasih yang terbaik buat kamu.”

Aku menghela napas. Segala kejanggalan yang kemarin terasa kini terjawab sudah.

-       Mengapa aku bisa lebih nyaman dengan mantan pacarku daripada Fian? Karena Fian biasa melirik cewek lain setiap jalan bersamaku. Aku tahu itu hanya iseng semata, tapi tetap saja aku risih. Sedangkan mantan pacarku ini, setiap jalan bersamaku pantang melirik cewek lain, walau cewek seksi dan cantik ada di sampingnya dan tengah memerhatikannya.

-       Mengapa aku tidak menyesal bertemu dengan mantan pacarku tanpa sepengetahuan Fian? Karena dia sudah mengecewakanku begitu dalam. Rasanya bermain beberapa jam bersama cowok lain bukan masalah besar dibanding sakit dan kekecewaan yang telah dia torehkan untukku.

-       Mengapa aku kembali pada Fian? Karena aku sangat menyayanginya dan tidak ingin kehilangannya. Berada di sampingnya lagi membuatku sadar bahwa kebahagiaan dan perasaan déjà vu yang kurasakan sesaat setelah bertemu dengan A Rooo itu semu, sesaat. Aku merasa bahagia karena saat itu baru saja dikecewakan Fian. Bertemu dengan A Rooo seperti penawar kekecewaanku.

Selain itu aku ingin membuktikan bahwa kesempatan tetap ada selama dia tidak mempermainkannya dan sungguh-sungguh ingin berubah. Aku tidak ingin dia menyesali setiap tindakan gegabah yang diambilnya untuk yang kesekian kalinya.

Namun satu hal, kesempatan ini pun tak selalu ada. Dia mesti memanfaatkan dan tidak menyia-nyiakannya selagi masih ada. Ini tidak mudah, aku tahu itu. Maka dia mesti belajar dari masa lalu. Aku ingin dia sadar bahwa menyia-nyiakan orang yang tulus menyayanginya hanya akan menimbulkan rasa sakit mendalam dan baru dapat terobati saat ia menemukan orang yang lebih baik dari cewek yang telah disia-siakannya itu (seperti yang dia alami saat menemukan orang kayak aku mungkin, haha.)


Saat mengantarkanku pulang ke rumah, Fian sempat mengatakan beberapa hal. Salah satunya adalah : “Gak tau kenapa dari kemarin gue yakin kalo malem ini lo bakal dateng. Kata gue ‘Devi pasti dateng, Devi pasti dateng.’ Dan lo emang dateng sorenya. Gue seneng banget. Lo selalu ngewujudin apa yang ada di hati gue.”

Sambil mengemudikan motor, tangan kirinya meraih telapak tanganku, menggenggamnya erat.

Malam ini terasa sangat sempurna. Pelukan hangat, rangkulan setiap kami berjalan berdampingan, juga kecupan lembut di kening, membuatku semakin nyaman bersamanya. Aku berjanji akan mengabadikan momen ini dalam memoriku.

Happy 5th months anniversary, Baby J I love you till the end :*

SMS terakhir Fian sebelum aku tidur (no edited) =>

Selamat tidur bebi semoga mimpiin yang tadi yah :D :*
ga nyangka banget ada kamu dijendela bikin kaget tapi seneng luar biasa L :D
makasih buat malam ini yah bebi :*
#ongkos ojek mana :O B-)
good night my favourite girl :*
love you so much baby :*
Happy anniversary 5 month :* :* :*
Bye …



Rabu, 24 Juli 2013


Devi Fiandani


0 comments:

Post a Comment