Menjumpai seseorang di masa lalu
Cowok yang tengah
mengendarai motor putihnya itu tersenyum manis padaku. Aku membalasnya dengan
senyum lebar, tak menyangka dapat bertemu dengannya lagi.
“Apa kabar?” tanyanya begitu
menghentikan motor tepat di samping kananku. Tangan kanannya terulur.
Aku menyambut uluran
tangannya seraya menjawab, “Kurang baik.”
Ekspresi cowok itu sedikit
berubah. “Oh ya? Kurang baik kenapa?” katanya masih sambil menggenggam tangan
kananku.
“Makin kurus.”
Ia memerhatikanku sejenak,
lalu berkata, “Tapi makin lucu.”
“Lucu? Apanya?”
“Kamunya. Makin kayak anak
kecil, lucu.”
Tak sadar, seulas senyum
terukir di bibirku.
Ia mengajakku pergi ke
studio, menemaninya latihan band. Sebuah ajakan yang langsung kuiyakan.
Bagaimana kami bisa bertemu?
Entahlah, aku sendiri tidak paham. Pertemuan tanpa rencana ini berlangsung
begitu saja. Semua yang terjadi begitu aku putus dengan Fian memang di luar
prediksi. Menghilang dari hidup Fian sudah kurencanakan, tapi hal-hal yang
terjadi dalam prakteknya bukan bagian dari rencanaku.
Tepat pukul 22.30 dia
mengantarku pulang. Perjalanan dengan secuil insiden unik yang membuat kami
tertawa bersama-sama.
Aku turun dari boncengannya,
mengucapkan serangkaian ucapan selamat tinggal dan hati-hati.
Dan kami kembali berpisah.
Benar-benar berpisah.
Tadi kami membicarakan
banyak hal. Lebih banyak dari dulu, saat kami masih berpacaran. Kini aku lebih
terbuka mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku. Seperti saat aku
mengatakan : “Kalo di foto A jelek, cakepan aslinya.” Padahal dulu aku mana
berani bilang begitu.
Tawanya langsung meledak.
“Bener, kan? Baru aja A ngomong.”
Lewat pertemuan ini pun aku
jadi tahu bahwa anggapanku selama ini keliru. Selama ini aku selalu mengira dia
suka Laruku, tapi ternyata tidak. Dia hanya suka style ala Jepang, bukan suka
Laruku.
Ya ya, aku sudah tahu dia
suka sesuatu yang berbau Jepang (anime, manga, dan Ost anime). Cuma kukira
karena dia suka J-rocks, maka otomatis dia suka Laruku. Haha, aku salah.
Baiklah tak apa. Toh aku suka Laruku bukan karena dia juga suka. Lagu-lagu
kerennya yang membuatku suka Laruku.
Sadar atau tidak, topik
obrolan kami dominan membahas Fian. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas
bagaimana ucapannya sesaat setelah ia melihat-lihat foto Fian satu album penuh.
“Cowok kamu itu… siapa tadi
namanya?”
“Fian?” jawabku bernada
tanya.
“Iya. Dia… tau A Rooo?”
Aku diam.
Melihatku hanya diam, dia
meneruskan. “Atau gak tau sama sekali?”
“Tau ko… dulu kan aku pernah
bikin status pake nama A. Jadi dia tanya A Rooo itu siapa?”
“Trus kamu jawab apa?”
“Mantan pacar.”
Dia langsung cengengesan gak
jelas. Waktu kutanya kenapa, dia berkata, “Nggak. Keceh aja kedengerannya. Oh
ya, dia pernah nanya-nanya tentang A Rooo ga?”
“Iya. Nanya A Rooo orang
mana…” (aku nyebutin beberapa hal, dan aku lupa apa aja itu).
Kesunyian memenuhi udara.
Dia menggumamkan sesuatu. Tidak jelas, aku tidak tahu barusan dia bilang apa.
“Mmmm…” Dia menatapku. “Dia
gak nanya yang lain? Kayak misalnya kita pernah ngapain aja?”
Otakku langsung menyimpulkan
yang dimaksud dengan ‘pernah ngapain aja’ itu pastilah berhubungan dengan
kontak fisik ‘berlebih’ antara laki-laki dan perempuan. “Iya. Aku jawab nggak
pernah ngapa-ngapain—jujur kan? Kita emang gak pernah
ngapa-ngapain kan?”
Ia mengiyakan. “Emang.
Kamunya kan pendiem banget. Akunya juga gak berani macem-macem. Aku masih imut
banget kayak anak kecil.”
Kami tertawa kompak.
Jujur saja, pertemuan ini
terasa sangat menyenangkan. Baru kusadari ternyata aku merindukan saat-saat
berada di sampingnya. Rasanya ingin menghentikan waktu barang beberapa jam agar
kebahagiaan ini tidak cepat berakhir.
Kala membuka pintu rumah,
entah mengapa aku merasa ini adalah pertemuan terakhir kami. Kami tidak akan
pernah seperti ini lagi. Inilah yang terakhir.
Mendadak perasaanku diliputi
kegamanangan. Ada yang lain di hatiku. Sesuatu yang selama ini luput dari
pengamatanku.
Setelah sekian lama baru
kali ini aku menyadari seseuatu : aku nyaman berada di sampingnya. Lebih nyaman
dibanding saat aku bersama Fian.
Begitu aman di dalam rumah,
pintu kembali kukunci. Semua orang sudah terlelap, aku mengendap-endap ke dalam
kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ketika kepalaku telah berada
di atas bantal, apa yang baru saja kualami terputar kembali dalam benakku. Lagu
The 4th Avenue Café memenuhi udara. Perasaan Déjà vu mengiringi
setiap desah napasku. Tahu-tahu badanku sudah berguncang hebat. Aku menangis.
Menangis menyesali diri.
Di mana rasa bersalahku?
Mengapa aku tidak menyesal telah mengkhianati Fian? Fian yang jauh di sana
tengah menanti kabar dariku…
Kembali
Pagi-pagi buta aku pulang ke
Purwakarta. Meninggalkan 3 kota yang telah kusinggahi selama kurang lebih 4
hari ini. Meninggalkan kota juga kenangan yang tertinggal di dalammnya.
Aku pulang dengan keyakinan
dan tekad baru. Tidak akan kubiarkan semuanya bertambah runyam. Aku pulang demi
Fian, demi kelangsungan hubungan kami, demi kebahagiaan kami.
24 Juli 2013, kejutan!!!
“Astagfirullahaladzim!”
Seruan terkejut itu keluar dari bibir Fian. Yeah, dia terkejut melihatku
tiba-tiba muncul di luar jendela kamarnya.
“Hai,” sapaku pelan
berusaha menahan tawa. Air muka Fian saat itu benar-benar lucu.
Fian buru-buru
menyingkirkan ponsel dalam genggamannya ke atas kasur. Aku tahu dia baru saja
mengirim SMS pada seseorang, cewek tepatnya. Tadi aku sempat melihat delivery
report-nya.
Dia menempelkan
tangannya di kusen jendela, berhadap-hadapan denganku. “Mau apa lo ke sini?”
tanyanya. Pertanyaannya tidak mencerminkan isi hatinya. Dia jelas-jelas tahu
maksud kedatanganku ke mari untuk apa dan tentu saja senyumnya menunjukkan dia
bahagia karenanya.
“Mau buka bersama,
kan?” Jauh sebelum kekacauan ini terjadi, kami memang berencana untuk buka
puasa bersama. Bahkan kami sudah menentukan di mana tempatnya. Kami bukannya
belum pernah buka bersama sebelumnya. Hanya saja yang ini berbeda. Acara ini
untuk merayakan hari jadi kelima kami!
“Emang mau jadi?”
Aku mengangguk.
“Lo kemana aja? Gue
galau, jadinya update tiap hari.”
“Aku tau, kok.”
Kami pun berbincang-bincang
sambil berdiri. Aku tidak ingat apa saja yang kami diskusikan, semua topik
mengalir begitu saja. Akhirnya aku mencoba meminjam ponselnya, ingin tahu
seperti apa isi SMSnya dengan cewek-cewek lain itu.
“Jangan, nanti aja.”
Ia berusaha mencegah.
“Pinjem, dong. Gue
tau ko, elo SMSan sama cewek lain. Di facebook aja kirim-kirim pesan ke cewek,
colek-colek cewek.”
Dia tertawa malu. “Ya
udah atuh, Dev. Jangan dibahas-bahas lagi. Malu.”
“Pinjem, dong!”
“Jangan, ih. Emangnya
lo siapa?”
Oke, aku tahu aku
bukan siapa-siapanya lagi. Tapi kukira…
“Oh, ya udah,” ujarku
seraya membalikkan badan, siap-siap pergi.
“Lo mau ke mana?”
tanya Fian.
“Pulang.”
“Jangan.” Ia
mencegahku pergi. Tangannya melingkari bahuku. Ia memelukku dari belakang. “Gue
emang SMSan dan inbox-an sama cewek lain. Tapi kalo lo mau balik lagi sama gue,
gue bakal tinggalin mereka. Gue bakal setia sama lo.”
Tentu saja aku
percaya. Bahkan sebelum ia mengatakannya.
Express Chicken
Di samping Giant ada
tempat makan bernama ‘Express Chicken’. Kami makan di sana. Aku memesan ayam
goreng, sedangkan Fian memesan nasi goreng. Masing-masing 1 porsi. Fian yang
mengantri di konter, aku hanya duduk menunggu sambil browsing.
Aku tidak akan
menceritakannya secara rinci. Satu hal yang mesti kalian tahu, aku sangat
menikmati makan bersama ini. Sederhana namun menorehkan kesan mendalam.
Selesai makan, Fian
mengajak bermain ke Time Zone. Aku mengiyakan cepat. Kami pun berjalan
berdampingan menuju lantai 3 Giant. Lengannya merangkulku hangat.
Kami bermain-main di
atas sana lumayan lama. Permainan paling asik yang kami mainkan bersama adalah
basket ball. Apalagi saat kami tanding skor. Ini aneh, skor akhir kami seri
(padahal awalnya aku tertinggal cukup jauh).
Kurang dari pukul
19.30 kami telah kembali ke rumah Fian. Lagi-lagi kami mengobrol seru. Haha,
jika dengan orang tersayang, walau hanya mengobrol rasanya akan menyenangkan
sekali. Seperti yang tengah kualami saat ini.
“Gue tuh bener-bener
sayang sama lo, Dev. Gue gak mau kehilangan lo. Gue emang nge-inbox, colek, dan
SMSan sama cewek lain. Tapi ketika ngelakuinnya gue ngerasa hambar. Gak ada
feeling sama sekali. Gue gak bisa ngeboongin kalo cuma lo yang ada di hati
gue.”
“Tapi kamu sering
nyia-nyiain aku.”
Fian menarik tubuhku
ke dalam pelukannya. “Aku janji gak akan nyia-nyiain kamu lagi. Aku bakal
ngasih yang terbaik buat kamu.”
Aku menghela napas.
Segala kejanggalan yang kemarin terasa kini terjawab sudah.
- Mengapa aku bisa lebih nyaman
dengan mantan pacarku daripada Fian?
Karena Fian biasa melirik cewek lain setiap jalan bersamaku. Aku tahu itu hanya
iseng semata, tapi tetap saja aku risih. Sedangkan mantan pacarku ini, setiap
jalan bersamaku pantang melirik cewek lain, walau cewek seksi dan cantik ada di
sampingnya dan tengah memerhatikannya.
- Mengapa aku tidak menyesal
bertemu dengan mantan pacarku tanpa sepengetahuan Fian? Karena dia sudah mengecewakanku begitu dalam. Rasanya
bermain beberapa jam bersama cowok lain bukan masalah besar dibanding sakit dan
kekecewaan yang telah dia torehkan untukku.
- Mengapa aku kembali pada Fian? Karena aku sangat menyayanginya dan tidak
ingin kehilangannya. Berada di sampingnya lagi membuatku sadar bahwa
kebahagiaan dan perasaan déjà vu yang kurasakan sesaat setelah bertemu dengan A
Rooo itu semu, sesaat. Aku merasa bahagia karena saat itu baru saja dikecewakan
Fian. Bertemu dengan A Rooo seperti penawar kekecewaanku.
Selain itu aku ingin membuktikan bahwa
kesempatan tetap ada selama dia tidak mempermainkannya dan sungguh-sungguh
ingin berubah. Aku tidak ingin dia menyesali setiap tindakan gegabah yang
diambilnya untuk yang kesekian kalinya.
Namun satu hal, kesempatan ini pun tak selalu
ada. Dia mesti memanfaatkan dan tidak menyia-nyiakannya selagi masih ada. Ini
tidak mudah, aku tahu itu. Maka dia mesti belajar dari masa lalu. Aku ingin dia
sadar bahwa menyia-nyiakan orang yang tulus menyayanginya hanya akan
menimbulkan rasa sakit mendalam dan baru dapat terobati saat ia menemukan orang
yang lebih baik dari cewek yang telah disia-siakannya itu (seperti yang dia
alami saat menemukan orang kayak aku mungkin, haha.)
Saat mengantarkanku
pulang ke rumah, Fian sempat mengatakan beberapa hal. Salah satunya adalah :
“Gak tau kenapa dari kemarin gue yakin kalo malem ini lo bakal dateng. Kata gue
‘Devi pasti dateng, Devi pasti dateng.’ Dan lo emang dateng sorenya. Gue seneng
banget. Lo selalu ngewujudin apa yang ada di hati gue.”
Sambil mengemudikan
motor, tangan kirinya meraih telapak tanganku, menggenggamnya erat.
Malam ini terasa
sangat sempurna. Pelukan hangat, rangkulan setiap kami berjalan berdampingan,
juga kecupan lembut di kening, membuatku semakin nyaman bersamanya. Aku
berjanji akan mengabadikan momen ini dalam memoriku.
Happy 5th
months anniversary, Baby J I love you till the end :*
SMS terakhir Fian
sebelum aku tidur (no edited) =>
Selamat
tidur bebi semoga mimpiin yang tadi yah :D :*
ga
nyangka banget ada kamu dijendela bikin kaget tapi seneng luar biasa L :D
makasih
buat malam ini yah bebi :*
#ongkos
ojek mana :O B-)
good
night my favourite girl :*
love
you so much baby :*
Happy anniversary
5 month :* :* :*
Bye …
Rabu, 24 Juli 2013
Devi Fiandani
Baca juga => Bagian Pertama (sebelumnya)
0 comments:
Post a Comment