Cerpen : Unbreak My Heart

Thursday, 7 February 2013
Ini cerpen udah beberapa kali aku publish di situs online. Bagi yang bosan bodo amat :D haha, maaf, maaf


Aku pacaran dengan Diki bukan baru sehari-dua hari. Tapi 4 tahun! Coba bayangkan, dalam waktu yang tidak singkat itu tentu aku sudah hafal karakternya luar dalam. Tanpa diberitahupun aku sadar ada yang berubah darinya. Yadia jadi lebih cuek padaku.
“Jangan kayak gini, dong. Gue gak suka, Ki …. ” ujarku sore itu, saat sedang beduaan dengan Diki di gerbang sekolah.
“Gini gimana? Apa yang elo gak suka?” Diki bertanya sok polos. Aku jadi gemas dibuatnya.
“Ih … elo nyadar gak sih, kalo elo udah banyak berubah!?” Nada suaraku meninggi.
“Gue? Berubah?” Diki menunjuk dirinya sendiri. “Gak mungkinlah! Gue ya tetep gue. Gak mungkin berubah.”
“Elo emang udah berubah, kok!”
“Ah, cuma perasaan lo aja kali …” tukasnya keukeuh.
Euh! Aku sudah tidak tahan. Tanpa ba-bi-bu lagi aku berlari meninggalkannya. Sambil berlari, aku berharap Diki akan mengejarku seperti yang biasa terjadi di film-film. Namun, sampai napasku sudah mulai ngos-ngosan pun, tak kulihat tanda-tanda kehadirannya dari jalan yang tadi kulalui.
Aku menunduk sedih. Dadaku terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di situ. Tidak salah lagi—aku sudah benar-benar kehilangan Diki.
***
“Oh, gitu ya …” gumam Lisda, sahabatku, begitu aku selesai menceritakan insiden dengan Diki sore tadi. Aku berbicara dengannya di telepon.
“Iya, dia udah berubah banget, Lis”
“Terus, apa urusannya sama gue?” tanyanya ketus. Aku terhenyak. Ada apa dengan Lisda?
“Ya ngga, Lis … gue cuma curhat doang. Biar perasaan gue lebih plong.” jawabku cepat-cepat. Sebisa mungkin aku menjaga nada suaraku tetap terdengar normal.
Di ujung sana, terdengar Lisda mendengus kesal, “Gue capek, Ris. Gue capek tiap hari harus selalu denger curhatan elo yang gak bermutu itu. Tiap hari yang elo ceritain tentang cowok lo lagi, cowok lo lagi.”
Aku melongo.
“Coba deh elu pikirin perasaan gue. Lama – lama gue juga bosen dengerin curhatan lo.”
Aku menggosok–gosok gagang telepon yang sedang kupegang. Apa aku tidak salah dengar? Lisda bilang bosan denger curhatan aku?
“Dan gue rasa elo tuh egois, Ris …”
“Gue gak egois!” tukasku spontan. Aku paling tidak suka ada yang mengataiku egois karena kenyataannya aku peduli pada orang lain.
“Tapi elo gak peduli sama gue!” teriak Lisda seolah dapat membaca pikiranku. “Elo selalu mentingin ego lo di atas perasaan gue. Elo dengan teganya jadiin gue tempat curhat, sementara gue gak pernah curhat tentang masalah gue ke elo. Setiap lo ngomong, elo pasti mau disimak dengan serius sama gue. Tapi kalo giliran gue yang ngomong, elo suka bertingkah seolah gue angin lalu.”
Aku gelagapan mendengar perkataan Lisda yang bertubi-tubi itu. Sungguh, selama bersahabat dengannya, dia belum pernah sekalipun mengeluh apalagi membentakku seperti tadi. Kenapa kesannya dia seperti tidak suka padaku?
“Gue capek diginiin terus, Ris …”
“Ya ampun, Lisda! Gue gak pernah nganggap lo angin lalu. Sumpah, deh!”
Lisda langsung menyahut, “Whatever you say! Mulai sekarang jangan ganggu gue lagi.”
“Tapi, Lis – kita kan sahabat”
“Gue udah gak nganggap elo sahabat lagi. Puas!!”
“Eh, eh, Lisda … tunggu dulu,” cegahku cepat-cepat karena khawatir Lisda keburu menutup telepon.
“Dan satu lagi …” desisnya sinis. “Gue gak peduli sama cerita lo tentang Diki itu.”
“Tapi, Lis …”
Tut … tut … tut …
Lisda menutup telepon. Meninggalkan aku yang masih terkesima akibat perkataannya barusan. Tiba-tiba, tetesan air bening meluncur dari sudut-sudut mataku. Oh Tuhanapakah aku harus kehilangan sahabatku juga?
***
Kehilangan pacar dan sahabat dalam waktu bersamaan membuat hari-hariku jadi berubah. Rasanya ada yang kurang. Tapi satu hal yang masih belum aku mengerti sampai saat ini. Apa yang membuat mereka menjauhiku?
“Hai, Risa!” sapa Andien, teman sekelasku yang terkenal bigos. Aku bingung, tumben-tumbennya ia mau menyapaku.
“Hai,” jawabku.
“Elo udah tau belum, gosip terhangat di sekolah hari ini apa?” ujar Andien dengan nada bicara yang mengundang penasaran.
“Nggak. Apaan?” aku balik bertanya.
“Cowok lo—si Diki—udah jadian sama Lisda. Itu loh … Lisda anak 2-6. Kok bisa ya, dia ngerebut cowok lo?”
Deg!
Ini sungguh-sungguh kejutan bagiku. Dan andai jantungku lemah, saat ini aku pasti sudah pingsan.
“Atau elo udah putus sama  Diki?” sambungnya menduga-duga.
Aku menggeleng.
“Ah, masa … pasti udah putus kan? Kenapa bisa putus, Ris?”
Lagi-lagi aku menggeleng.
“Ngaku aja, Ris! Gak mungkin Diki selingkuhin elu …” Aku merengut kesal. Dasar si Biang Gosip ini tidak mengenal waktu dan tempat yang pas buat mengorek informasi—lihat wajahku, dong! Sudah pias begini masih ditanyai macam-macam. Cobalah paham kalau aku masih shock!
“Nanti gue jelasin,” ujarku lalu buru-buru meninggalkan kelas. Aku ingin mendengar kepastiannya dari Diki sekarang juga. Kalau perlu, Lisda juga bisa kutayai. Tak peduli bagaimana sakitnya hatiku nanti, yang penting semua bisa terungkap.
“Iya, bener …” kata Diki pendek begitu kutanyai kebenaran gosip tadi.
Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Tubuhku terasa amat lemas. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya pacar dan sahabatku tega berkomplot untuk menyakitiku.
Dalam hitungan detik, semua berubah menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

***
“Risa …” sebuah suara menyadarkanku dari sebuah  mimpi panjang tanpa ujung dan pangkal. Begitu mataku terbuka lebar, tampak Andien berdiri menatapku dengan cemas.
“Aku … di mana?” Aku benar-benar merasa asing pada ruangan serba putih yang kutempati sekarang.
“Elo ada di UKS. Tadi elo pingsan di depan kelas Diki, trus anak-anak kelas itu buru-buru bawa lo ke sini,” terang Andien panjang lebar.
Mendengar nama Diki disebut, aku jadi teringat sesuatu
“Diki … di mana?”
“Dia … di kelasnya.” Aku menangis. Sebegitu bencinyakah Diki padaku hingga enggan menyempatkan waktu barang semenit untuk menemaniku yang pingsan di depan matanya?
Tanpa sadar, Andien memelukku erat. Dia ikut-ikutan menangis. “Tetap sabar, Sayang. Elo cewek yang tegar.”
***
            Ini gila! Tapi malam ini aku duduk sendirian di kursi pojok sebuah restoran demi memenuhi undangan seseorang yang tidak jelas. Ya—undangan dengan amplop berwarna hitam dan bergambar tengkorak itu tergeletak dengan manis di lokerku. Si pengirim menyuruh aku datang ke tempat ini tepat jam 7 malam. Ada kejutan, katanya. Karena penasaran, akupun —dengan terpaksa— memenuhi ajakannya. Entah apa yang akan terjadi …
            Tapi tunggu dulu ... dari pintu masuk restoran, kulihat Diki dan
Lisda tengah berjalan dengan tenang menuju ke arahku. MEREKA MAU MENGHAMPIRIKU!
            Apa-apaan ini?
            Setelah mereka berada di hadapanku, aku menatap mereka dengan sinis. Dan anehnya, mereka malah membalas tatapanku dengan senyam-senyum so imut.
            “Jangan cemberut gitu, dong …” goda Lisda. Bibirku membentuk huruf ‘O’.
            “Kamu cantik banget malem ini,” kata Diki. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk di sampingku.
            Dengan wajah bersemu merah, aku menoleh padanya. “Diki?”
            “Iya, Sayang. Ini aku,” ujarnya. “Selamat ulang tahun ya, Honey.” Diki mengecup keningku lembut.
            Aku tidak dapat berkata apa-apa. Kulirik Lisda yang masih berdiri di depanku dengan tatapan bertanya, tapi ia malah tersenyum makin lebar.
            “Maaf ya, Sayang. Sebulan ini aku sama Lisda acting jauhin kamu demi memuluskan rencana pesta perayaan ultahmu. Aku sengaja bikin kamu ilfeel supaya surprised yang udah aku siapin ini makin berkesan.”
            “Sekali lagi, selamat ulang tahun, Sayang!” Kali ini Diki merangkulku. Hangat.
            Aku masih belum mengerti apa yang terjadi sampai akhirnya ruangan yang kutempati berubah—dari yang tadinya restoran biasa—menjadi tempat romantis. Lampu dimatikan, dan digantikan oleh cahaya temaram lilin. Di kejauhan sana, tampak Lisda, Andien, dan beberapa teman Diki, membentangkan sebuah kain bertuliskan “HAPPY B’DAY, HONEY … I LOVE YOU <3”
            Aku mendekap mulutku dengan tangan. Kagum. Ya—aku baru mengerti sekarang. “Love you too, Diki …” bisikku lirih.

0 comments:

Post a Comment