"TELINGA BERDENGING" Adalah Panggilan Baginda Nabi MUHAMMAD Sholallohu Alaihi Wasallam

Saturday, 24 May 2014

Banyak orang bertanya kenapa terkadang telinga bersuara "Nging" ?

Apa sebab musababnya, karena musababnya ada yang mengatakan dengan tidak berpedoman,  bertahayul dan sangkaan jelek terhadap hal itu?

Sesungguhnya suara "NGING" dalam telinga, itu ialah Sayyidina Rosululloh Saw sedang menyebut orang yang telinganya bersuara "NGING" dalam perkumpulan tertinggi (malail a'laa) supaya ia ingat pada sayyidina Rosululloh Saw dan membaca sholawat.-

Hal ini berdasarkan keterangan dari kitab ( AZIZI 'ALA JAMI'USH SHAGHIR)

"Jika telinga salah seorang kalian berdengung(nging) maka hendaklah ia mengingat aku (Sayyidina Rosululloh Saw) dan membaca sholawat kepadaku. Serta mengucapkan "DZAKARALLOHU MAN
DZAKARONII BIKHOIR"; (artinya, Alloh ta'ala akan mengingat yang mengingatku dengan kebaikan)".

Imam Nawawi berkata :




Sesungguhnya telinga itu berdengung hanya ketika datang berita baik ke Ruh. Bahwa sayyidina Rosululloh Saw telah menyebutkan orang ( pemilik telinga yang berdengung"Ngin g") tersebut dengan kebaikan di al mala'al a'la (majlis tertinggi) di alam ruh.

[ Kitab AZIZI 'ALAL JAMIUSH SHAGIR ]

Sampaikanlah kepada orang lain, maka ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang Anda kirimkan pesan ini. Dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat
pahalanya sampai hari kiamat...

Tentang Penciptaan

Friday, 23 May 2014
Jono dan Joni sama sama belajar teknik desain grafis. Keduanya sudah menguasai teknik beberapa aplikasi desain. Lalu Jonah yang mempunyai usaha jasa pengurusan surat surat administratif minta dibuatkan logo pada Jono. Jonah minta logo yang mewakili motonya: cepat, tepat, puas. Jono bertanya contohnya seperti apa, tapi Jonah tidak bisa memberinya contoh.

Jonah lalu bilang pada Joni. Joni membuat beberapa buah logo dan Jonah memilih logo dengan gambar jempol yang tersenyum dan ada kilatnya.

Melihat itu, Jono bilang, "Kalau cuma gambar gitu, aku juga bisa bikin, Nah. Nih," sret sret sret ... langsung jadi.


Kau tahu apa yang ingin kubilang? Penciptaan tak semata teknik, sobat. Meski semu teori menulis telah kau khatamkan, penciptaan butuh lebih dari itu.
Salam.

Oleh Avenus Har
Sumber : https://www.facebook.com/groups/kelasonlinebimbinganmenulisnovel/

Kiat-kiat Kencan Buta

1. Jangan bertele-tele saat memperkenalkan diri.

Masalah pertama dari sebuah perkenalan adalah terlalu banyak cing cong. Cewek mana pun pasti tak suka cowok yang banyak omong. Sementara cowok akan berpikir bahwa ceweknya itu cerewet. Hal-hal seperti ini, banyak omong--cenderungnya curhat--, akan membuat seseorang malas mengenalmu lebih jauh.


2. Jangan membicarakan soal cuaca.

Sesulit apa pun, segagap apa pun, jangan pernah membahas cuaca ketika pertama bertemu. Apalagi membahas sesuatu yang bukan urusan unisex, seperti membahas urusan bola, obral, dsb.
Bahaslah sesuatu yang menarik, yang membuat deg-degan, atau paling tidak bosan sampai pasangan kencanmu ingin menghajarmu. Setidaknya bicarakan soal film yang sedang hits atau kudapan enak.

3. Jangan pernah memonopoli pembicaraan.

Sudah pasti yang seperti ini ditinggalkan. Bahkan, seorang biksu pun akan menghajar seorang Megalomaniak.

Tapi, anehnya, tetap saja banyak yang tidak peduli pada kiat kencan buta seperti ini. Masih banyak yang cerewet dan cenderung curhat di awal cerita. Apalagi membicarakan cuaca. Wuih, satu paragraf penuh malah. Lalu, megalomaniaknya itu lo, masa di setiap kalimat ada kata gantinya. .

Menulis itu harusnya menunjukkan. Ibarat mata lensa yang menyorot segala yang di depannya. Dia menangkap, bukan seperti seorang sutradara yang memerintah ini itu. Novel itu harusnya seperti siaran langsung. Well, kesan itu segalanya. Jadi, pastikan novelmu itu seorang yang berkesan.

Oleh WN. Rahman

Lomba Menulis Cerpen “Travel 'n Love” PADMagz Travel Magazine (1 Mei - 31 Agustus 2014)

Tuesday, 13 May 2014
Setiap perjalanan pasti menyisakan cerita yang tidak habis-habis. Ada suka, duka, ada kisah-kisah lucu dan menggelikan bahkan cerita cinta yang bersemi di antara derak-derak roda. Untuk itulah, PADMagz Travel Magazine bersama Padma Tour Organizer ingin menantang kamu dalam lomba menulis cerpen dengan tema: TRAVEL 'N LOVE

Lomba Menulis Cerpen 

“Travel 'n Love” 
PADMagz Travel Magazine

Syarat dan ketentuan peserta:
  •     Peserta harus WNI, bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, berusia minimal 15 tahun dibuktikan dengan scan kartu identitas.
  •     Peserta wajib mem-follow akun Twitter PADMagz dan Padma Tour di @pad_magz dan @PadmaTour, dan/atau like Fanpage facebook: Padmagz
  •     Pengumpulan naskah mulai 1 Mei 2014 hingga 31 Agustus 2014.
  •     Naskah yang lolos seleksi akan diumumkan pada tanggal 1 Oktober 2014 melalui Twitter dan Facebook.
  •     Seluruh kru dan keluarga besar PADMagz dan Padma Tour tidak diperkenankan mengikuti lomba ini.

Syarat dan ketentuan naskah:
  •     Tema harus berkaitan dengan perjalanan  wisata dan hal-hal menarik yang terjadi di dalamnya.
  •     Tulisan harus berupa fiksi/cerita pendek (cerpen). Boleh berdasarkan kisah nyata tapi HARUS dikemas dalam cerita fiksi (bukan curhat).
  •     Genre bebas.
  •     Format tulisan diketik rapi dalam MS Word, font Times New Roman 12 pt spasi 1,5. Format file dalam .doc atau .docx
  •     Panjang naskah sekitar 5-7 halaman A4
  •     Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) naskah
  •     Naskah HARUS asli dan BUKAN jiplakan/saduran/terjemahan baik sebagian maupun keseluruhan.
  •     Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis dan TIDAK pernah dimuat di media apa pun (cetak dan online) dan di mana pun (Nasional/lokal).
  •     Wajib mencantumkan biodata singkat, foto diri terbaru beserta nomer telepon yang bisa dihubungi di akhir naskah.
  •     Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (bukan badan email) ke alamat nulistravel@gmail.com dengan subjek: NULIS YUK – [Judul Naskah]
  •     Naskah yang tidak memenuhi persyaratan di atas dianggap GUGUR dan TIDAK akan diseleksi oleh dewan juri.
  •     Jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran baik Hak Cipta maupun pidana pada naskah-naskah yang lolos, penyelenggara berhak menganulir naskah tersebut dan mengajukan tuntutan sesuai dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku.

Di akhir periode, diumumkan 15 naskah yang lolos seleksi oleh dewan juri yang terdiri dari para penulis dan sastrawan Nasional (nama-nama juri dirahasiakan demi independensi). Naskah-naskah terpilih akan dibukukan dalam satu antologi cerpen bersama.

HADIAH:
Dan, hadiah yang menanti bagi para penulis yang beruntung tersebut adalah:
  •     LIBURAN KE LOMBOK GRATIS SELAMA 3 HARI 2 MALAM untuk 5 naskah pemenang utama, termasuk tiket pesawat Surabaya-Mataram PP dan akomodasi berupa hotel dan fasilitas setara bintang 4 + piagam penghargaan.
  •     10 naskah favorit pilihan dewan juri mendapat hadiah uang sejumlah Rp 500.000,- + piagam penghargaan.
Lomba Menulis Cerpen Cinta


Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah menulis ceritamu sekarang!


Lomba menulis Cerpen ini dipersembahkan oleh PADMagz Travel Magazine bersama Padma Tour Organizer, contact:

Twitter: @pad_magz dan @PadmaTour

Fanpage facebook: Padmagz



selengkapnya di sini

Kami Mulai Berdamai

Thursday, 8 May 2014

Jauh sebelum tulisan ini diluncurkan, seorang gadis kelas 2 SMP—sekarang kelas 3 SMP—memusuhiku yang dituduhnya telah merebut seluruh perhatian kakak laki-laki yang notabene adalah pacarku, Fian. Ia terang-terangan berkata sangat membenciku. Ia selalu protes, “Aa mah lebih mentingin pacar daripada adik sendiri!”.

Pernah kucoba menjelaskan bahwa sebenarnya, di balik sikap cuek dan masa bodohnya, Fian tetaplah sosok kakak yang sangat menyayanginya. Bagaimana ia menyayangiku dan bagaimana ia menyayangi adiknya tidak lah sama. Jika nyatanya waktu dan perhatian yang diberikan Fian untukku jauh lebih banyak dibandingkan padanya, tentu ini hal yang wajar.

Namun ia menolak mendengar. Ia tetap bertahan dengan kebenciannya padaku. Beberapa kali ia mengatakan ketidaksukaannya tersebut lewat SMS kepada Fian, yang langsung kutanggapi saat kebetulan ikut membacanya. “Sebodo! Dia pikir gue suka sama dia? Nggak, lah! Anak labil gitu. Bisanya sirik mulu.”

Mulutku memang tajam. Kata-kata sinis bisa dilontarkan kapan pun aku mau. Apalagi seperti saat itu. Aku benar-benar diliputi kekesalan. Dia pikir dia siapa?

Seiring berjalannya waktu, aku memilih tidak peduli padanya. Menganggapnya tidak pernah ada. Mengabaikan setiap dia mengirim SMS atau inbox facebook untukku. Kuabaikan. Aku tahu tife macam apa anak itu. Semakin dibaikin, semakin melunjak pula lah keangkuhannya. Semakin dinasihati, semakin tidak ingin mendengar. Abaikan. Itulah jalan terbaik.

Hingga akhirnya, beberapa bulan menjelang, sikapnya mulia lunak. Ia meminta maaf penuh penyesalan padaku. Ia berkata aku pantas membencinya atas semua sikap buruk yang pernah ia lakukan. Ia sungguh-sungguh menyesal, tidak ada alasan untuk tidak memaafkannya.

“Sebenernya teteh juga gak mau membenci kamu. Biar gimanapun, kamu itu adik Fian. Teteh maunya gak cuma sayang sama Fian, tapi sayang adik-adik dan orangtuanya juga,” kataku.

Sabtu, 03 Mei 2014, kami berbalas pesan-ria seperti kakak-adik atau sahabat karib. Ia meminta saran SMA mana yang bagus untuknya. Merasa bersemangat, kupromosikan almamaterku, SMA Negeri 1 Purwakarta, sekolah terbaik di Purwakarta.

Kami bertukar informasi, bertanya jawab, membuat rencana main bareng, dan lain-lain. Rasanya campur aduk. Di satu sisi aku senang akhirnya berbaikan dengannya, apalagi keesokan harinya dia mencantumkan namaku di list ucapan selamat paginya. Namun kadang, aku merasa terganggu juga. SMSnya tidak berhenti sehari penuh. Agak lama saja tidak dibalas, ia langsung mengirim SMS baru. Bikin repot juga kadang-kadang.

Bagaimanapun, inilah yang kuinginkan. Mencoba berdamai dengan segala aspek dalam kehidupan Fian. Mencoba menyayangi orang-orang penting di sekitarnya. Mencoba membagi kebahagiaan kami dengan yang lain.

Membagi canda, tawa, kisah, serta kenangan manis. Mengabadikannya dalam memori. Menularkan semangat pada setiap yang mendengar hingga terlibat dalam kisah DeFian.

Semoga ini menjadi awal semakin baiknya hubungan kami mendatang.

Semoga semua merestui hubungan kami nantinya.

Semoga aku, Fian, beserta keluarga besar kami dapat saling menerima apa adanya.

Dan semoga aku bisa menyayangi Nadya, adik perempuan Fian yang saat ini tengah menghadapi Ujian Nasional tingkat SMP, sepenuh hati. Ikhlas. Menganggapnya seperti adik sendiri.

Semoga.

Aamiin, aamiin, aamiin…

Telepon Singkat di 18:57

Thursday, 1 May 2014
Entah hari apa dan tanggal berapa, ketika saya tengah membaca sebuah novel, ponsel saya tiba-tiba berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk. Begitu membaca nama yang tertera di display ponsel, saya segera menekan tombol answer.

Sebelum saya sempat mengucapkan 'halo', suara di seberang sana segera memotong cepat. Ia berbicara tanpa jeda selama sebelas detik.

"I love you, Baby. You're my true love, titik. Muach, bye."

Tut-tut-tut

Lagi-lagi, saya tidak sempat mengucapkan apa pun. Telepon tertutup tepat setelah ia mengucapkan 'bye'.

Fian, kamu bisa saja membuat saya tersenyum-senyum sendiri :)

Kenangan Tabung Gas

Wednesday, 30 April 2014
Satu lagi kenangan manis di hari Rabu, 30 April 2014. Subuh itu aku mengirim pesan kepada Fian, mengucapkan selamat pagi beserta kawan-kawannya. Mencoba menyapa duluan (biasanya dia yang pertama membuka percakapan di SMS setiap pagi). Namun hingga siang menjelang tak kunjung datang balasan darinya ke ponselku. Saat tengah mengetik di PC, barulah aku ingat pulsanya habis digunakan untuk meneleponku kemarin-kemarin. Sisa pulsa yang tinggal 400 rupiah berakhir di SMS hari Selasa.

Aku tersenyum maklum. Kembali melanjutkan aktivitas rutinanku, membaca dan mengetik.

Kutatap tiga lembar uang berwarna biru di samping kananku. Ah ya, hari ini aku harus segera membeli tabung gas, setelah dua hari sempat tertunda. Karena tidak tahu tempat mana yang menjual tabung gas, akhirnya ku-dial nomor Fian saat itu juga.

"Halo," suara di seberang sana menyahut.

"Kamu gak punya pulsa, ya?" tanyaku memastikan.

"Iya. Aku udah kirim inbox ke facebook kamu juga," jawabnya.

"Oh ya? Aku belum baca," kataku takjub. "Eh Bi, tau gak tempat yang jualan tabung gas?"
Terdengar Fian berbicara pada orang di dekatnya. Dapat kutebak itu pasti ayah Fian. "Ada, Bi. Di GS."

"Di sebelah mananya?"

Fian mengulangi penjelasan yang diberikan ayahnya. "Ya pokoknya daerah Pasar Mambo gitu."

Aku manggut-manggut. "O iya-iya."

"Mau aku anter gak?" tawarnya tiba-tiba.

"Anter?"

"Iya. Mau gak?"

Aku tak dapat menyembunyikan senyumku yang mengembang. "Hayu, Bi. Tapi gimana janjiannya?"

"Di GS aja."

"Yeh, gimana bukan di mana?"

"Gimana apanya?"

"Kamu kan gak punya pulsa. Terus gimana janjiannya, Oneng?"
"Entar kan pulang... Kata aku juga baca dulu inbok aku deh. Emang kamu mau berangkat jam berapaan?"

Aku menimbang-nimbang. Mengamati penampilan acak-acakanku sekilas, melihat jam tanpa benar-benar berpikir, kemudian kembali fokus ke telepon. "Siangan deh ya. Jam sebelas atau dua belasan aja."

"Iya Bi, siang aja. Aku juga mau sekalian beli karet elastis ke toko AA."

Pasti pesanan ayahnya.
Aku mengiyakan dan terpaksa mengakhiri panggilan dengannya. "Udah dulu ya, Bi. Bida manggil aku tuh." Bida, panggilan khusus untuk kakakku.

"Oh iya-iya. Bye, love you."

"Love you too..."

***

Begitu panggilan berakhir, segera kubaca pesan masuk facebookku. Benar, ada satu pesan yang belum kubaca.

Fian : Bebi aku ga ada pulsa nanti isi pulsanya plg dagang

Sebagai anak yang berbakti, ia kerap membantu ayahnya berjualan mainan di TK Iqro (hingga detik ini aku tidak tahu di mana lokasi TK tersebut).

Aku : Iya bebi kutunggu smsmu
mangat ya dagangnya

Fian : iya bebiku siap
sayang dan cinta kamu:* muach:*

Aku tersenyum-senyum sendiri. Beginilah kelebayan kami di mata orang lain, namun manis di mata kami berdua. Sebab kami lah yang menjalani, bukan mereka atau bahkan kalian. Bukan. Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana manisnya suatu hubungan jika belum pernah mengalaminya. Semua akan kau rasakan saat kau menemukan soulmatemu, belahan jiwamu.

***

Pukul 12.30 aku baru selesai mandi. Begitu kulirik ponsel, telepon Fian segera menyambut indera penglihatku.

"Ya?"

"Kamu masih di mana?"

"Masih di rumah. Tunggu sebentar lagiiiii aja, ya."

Aku bersiap-siap secepat yang kubisa. Pakaian, bedak, sisir, tas, pin, dan lain sebagainya tergeletak tak berdaya di ranjangku. Setelah tampak rapi, waktu menunjukkan pukul 13.15. Selama bersiap-siap, terjadi pertengkaran singkat antaraku dan Fian. Dia marah gara-gara menungguku nyaris satu jam. Kusuruh dia pulang jika tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dan dia benar-benar pulang.

Ketika aku melangkahkan kaki keluar rumah, mendadak aku menyesal sudah menyuruhnya pulang. Banyak hal. Aku membutuhkannya saat ini untuk : memberitahu di mana lokasi penjual tabung gas, membawakan gas yang pasti berat tersebut, dan yang terpenting aku ingin melihat sosoknya lagi.

Aku pun meminta agar ia kembali ke GS. Tanpa diduga, ia setuju...

***

Aku membuatnya menunggu beberapa menit lebih lama lagi. Dia mencak-mencak kesal mengapa aku begitu lama sekali. Sebenarnya aku merasa kasihan, namun rasa geli mengalahkan rasa belas kasihku. Lucu juga membuatnya menunggu berjam-jam begini.

Tepat ketika aku sampai di tempat tujuan, nomor ponsel Fian mendadak tidak aktif. Kuperhatikan sekeliling, tak kutemukan kehadirannya. Akhirnya kucoba masuk ke pelataran GS, berharap menemukannya di sekitar sana. Saat kakiku berbelok ke arah kiri, di arah berlawanan tampak Fian tengah membelok ke arah yang sama denganku. Senyumku dan senyumnya terlontar tanpa sadar. Terlebih setiap kuingat telah membuat ia menunggu lama.

"Nomer kamu gak aktif ih." Kalimat pertama yang terlontar dari mulutku seraya menepuk bahu kirinya cukup kencang.

"Devi nyebelin bikin gue nunggu lama," kata Fian nelangsa, namun senyum bahagia tercetak jelas di bibirnya. Bagaimanapun kesalnya di SMS, jika bertemu kami pasti akur kembali. Sangat manis malah.

Kami duduk berdampingan di depan GS, mengobrol basa-basi sejenak.

"Sini, aku aja yang beli tabung gasnya. Tadi aku udah ngebooking, jadi kalo kamu yang ke sana pasti bilangnya gak ada. Soalnya tinggal sisa satu," kata Fian.

"Berapaan?"

Fian menyebutkan sejumlah angka.

"Murah banget," komentarku. Setahuku, harga tabung gas lebih mahal dari angka yang ia sebutkan, jadi kuanggap harga di sini termasuk murah sekali.

"Nanti aku anterin kamu pulang gak?" tanyanya.

"Ya iya lah," jawabku. "Kalo nggak, siapa yang mau bawain tabung berat itu sampai Simpang."

"Sialan, Devi..."

Kami tertawa kompak.

"Ya udah aku beli tabungnya dulu, ya. Nanti kamu tunggu di depan aja."

Aku mengangguk. Kami pun berjalan beriringan. Sesuai kesepakatan, aku menunggu Fian di depan pasar tradisional yang baru kutahu ada di sana. Demi Tuhan, aku baru tahu ada pasar seperti itu di pinggir GS.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan tabung berwarna hijau di tangan kanan. Lagi-lagi kami tertawa kompak.

"Abis ini kita gak akan kemana-mana lagi, kan?"

"Emang mau ke mana?" Mataku melebar antusias.

"Ya nggak, malu aja bawa-bawa tabung gas gini."

"Katanya mau beli capcin dulu?"

"Oh iya. Emang ada tukang capcin di sini?" Fian balik bertanya.

"Ada di sebelah sana kalo gak salah. Aku pernah beli,"

Kami berjalan lagi menuju tempat yang kumaksud.

"Tuh kan ada gerobaknya," ujarku seraya menunjuk dengan dagu. "Dulu aku belinya pop ice. Gak tau ada capcin atau nggak."

Sampai di samping si ibu penjual, kami memesan sesuatu. "Ada capcin ga, Bu?"

Si ibu mengangguk. "Ada. Mau berapa?"

"Satu, Bu. Satu lagi Pop Ice komlit." Fian yang ingin Pop Ice.

"Pop ice rasa apa?"

"Permen karet aja, Bu."

"Permen karet? Buble gum, Bi," ralatku.

Fian terkekeh. "Sama aja."

Kami menarik kursi dan duduk berdampingan di ruang makan yang disediakan si ibu penjual es tadi.

Selama di sana kami mengobrol seru mengenai banyak hal. Tentang ayahnya, tentang nenekku, tentang jadwal pengajianku, tentang alasan membeli tabung gas lagi, dan lain sebagainya seolah tak habis-habis topik untuk kami diskusikan.

Beberapa menit begitu es masing-masing habis, kami memutuskan langsung pulang ke rumah.

"Nanti kamu ke sananya naik ojek, kan?" tanya Fian.

Aku mengangguk.

Ia menuntunku saat kami menyeberang jalan. Saat sampai di seberang, sebuah angkot 01 berhenti di depan kami. Fian langsung menggoyang-goyangkan tangannya tanda menolak.

"Kenapa gak mau, bi?"

"Banyak ceweknya. Peluang aku buat dimarahin kamu jadi makin besar. Ngeliat ke mana pun jadi serba salah. Dikiranya lirik cewek lain."

Sekali lagi kami tertawa kompak.

Tak lama angkot 01 lain berhenti di depan kami. Kali ini hanya berisi dua orang ibu-ibu. Kami pun naik lalu duduk berdampingan.

Obrolan seru terlontarkan selama perjalanan Pasar Jum'at-Simpang. Sikap Fian pun amat manis padaku. Ia memujiku 'cantik banget' seraya tersenyum lembut. Aku jadi malu. Sejujurnya, ia pun tampak tampan hari ini dengan baju biru-abu membalut tubuhnya.

Sampai di Simpang, kami mesti berpisah kembali. Aku naik ojek, dan ia mencari angkot 07 atau 03 untuk pulang ke rumahnya. Ritual perpisahan kami lakukan. Salam, ucapan hati-hati, dan lambaian tangan diiringi senyum kami lakukan saat itu juga. Seorang tukang ojek di samping Fian ikut melambaikan tangan, membuat aku, Fian, serta dirinya tertawa geli.

Hari yang baik. Akhir pertemuan yang baik.

***

SMS sorenya. . .

Fian : Bebi tadi hp na mati wae :(

Aku : Jangan lupa ngucapin met ultah :o makanannya udah dikasihin? :D

Fian : Udah di makan sama aku abis :p

Aku : Dosa gak menyampaikan amanat :o

Fian : Ya ntar disampein, masa kue ultah kayak gini :p yang kayak gini buat aku B-) :D

Aku : Rakus :p kompor teh Rinnai bi

Fian : Tuh kan rinai kata aku ge :p

Aku : Kebetulan weh :p

Fian : Aku tau keles merk2 kompor yang bagus :p

Aku : Biasa da tukang kompor mah apal wae :p

Fian : Oke fine ngatain :p

Aku : Yang punya pabrik kompor gas miliyuner keles :p

Fian : Cie so ngebaikin :p kangen kamu yang makin cantik aja :*

Aku : Cie bebi ngegombal aja :* aku gak kurus banget kan sekarang mah? :D

Fian : Serius bu cantik banget :* ga ko bi :D

Aku : Bebi tadi senyum terus jadi keliatan ganteng banget :* mun cemberut mah goreng :p tadi itu pertemuan singkat yang manis banget ya bi :D

Fian : Kamu makin cantik tuda jadi senyum wae :* manis da beli pop ice :D

Aku : Bebi bisa aja bikin geernya :D :* so sweet bi, lain pop ice atau capcin :p

Fian : Beneran bebi ih jangan geer :p :* iya bebi so sweet :*

Aku : Makasih pujiannya mybii :* Jangan lupa shalat ya bebiku :*

Fian : Iya sama2 bebi :* kamu juga yah :*

INI SALAH SATU HARI TERBAIK DEFIAN. YEAH!