Statistik Blog Turun Drastis

Wednesday, 9 April 2014
Beberapa hari absen update blog, statistik blog saya turun drastis. Dihitung-hitung turunnya sampai 30% lah. Hehe. Bukan masalah. Toh selama ini saya bingung sendiri juga, apakah isi blog gak penting ini layak dibaca umum? Itu masalah anda, bukan masalah saya.

Adapun beberapa alasan mengapa beberapa hari ini saya tidak menyapa anda di blog. These are very simple cause :

1. Saya jarang bangun tengah malam.

Karena saya menggunakan paket modem internet malam (jam 00-06) yang kuotanya plus-plus, alhasil saya mesti bangun di jam-jam segituan. Kemaren-kemaren, pas jaman-jamannya TO, bangun jam segitu bukan hal aneh. Makanya saya update nyaris tiap malam. Berhubung dua minggu ini saya free, dan persiapan buat UN juga, ya saya berusaha memperbanyak istirahat.

2. Tidak punya ide.

Walau isi blog saya absurd, saya tetep mesti punya ide untuk mengisinya. Kan pembaca Indonesia sudah cerdas, kalau disuguhi bacaan yang kurang bermutu (sialnya tulisan saya justru tidak bermutu semua) pasti bakal protes. Ahah. Saya menghargai pemikiran anda. Makanya, sebelum anda terjangkit penyakit darah tinggi, alangkah baiknya berhenti menstalk blog saya.Isinya curhatan semua, bro!
Tapi jujur, saya senang punya pembaca. Walau rata-rata hanyalah pembaca gelap.

3. Ngurusin Fian

Kami belajar sama-sama buat menghadapi UN 2014 ini. Nyaris tiap dua hari sekali kami menyempatkan waktu beberapa jam untuk belajar bersama. Rasanya rame juga saya bisa seenaknya marah-marahin dia. Salah sendiri salah hitung terus :p
Kalo siangnya belajar bersama, badan ini pasti lemes banget malamnya. Kembali lagi ke point pertama, saya jadi gak bisa bangun tengah malam. Subuhnya bisa, tapi ada kegiatan lain yang mesti saya lakukan juga.

Itulah tiga alasan mengapa saya jarang update blog lagi. Insya Allah yah kita akan kembali bertemu di lain kesempatan.

See you ~

Lomba Menulis Novel Berhadiah Nonton MotoGP ke Sepang Malaysia (

Saturday, 5 April 2014
Saya sih tetap setia sama The Doctor VR46. Lihat saja, dia udah come back. Ya sih, di Qatar kemarian, dia ngalah aja sama Marquez. Adiknya, ngalah sesekali kan nggak apa-apa atuh. Membayangkan menjadi bagian dari penonton helatan MotoGP, dapat atmosfir suara knalpot, racing line, slinding, latest breaking, dan bisa jepret-jepret para rider idola, di Sepang Malaysia. WOW!



Pengin?
Gratis lagi?
Sekalian sama passport-nya jika belum punya.
Yuk ikutan lomba gila ini. What a love is it!
Ada tiga seat  nih disediakan buat kalian….

****
Lomba ini adalah lomba menulis novel pribadi (personal), bukan rame-rame. Terbuka untuk umum segala usia. Perhatikan ketentuan-ketentuannya ini:

Syarat teknis:
1. Karakter naskah novel umum (fantasi tidak  disertakan dulu di sini). Segmen teenlit atau young adult *pilih salah satu). Tidak mengandung SARA. Tidak boleh ada plagiasi sedikit pun, apalagi banyak pun. 
2. Gunakan gaya bahasa yang easy reading. Penyajian ringan. Perhatikan, novelmu harus memuat nilai-nilai inspiratif di dalamnya. Tentu dengan style novel, bukan kultum.
3. Keunikan idemu akan sangat diperhatikan. So, jangan ambil ide yang jadul. Harus mengambil setting luar negeri. Kekuatan kearifan lokal negara asing yang jadi setting-mu sangat penting. Pilihlah setting yang unik, tidak pasaran. So, perhatikan detail setting novelmu.
4. Lomba ini berlaku hanya dari tanggal 15 April 2014-15 Juli 2014.
5. 1 orang hanya boleh mengirim 1 naskah. Tulisan diketik dengan font Times New Roman ukuran  12 pts spasi ganda (spasi 2), antara 200-300 halaman (sudah termasuk biodata dan alamat lengkapmu + sinopsis ceritanya). Ukuran kertas A4 dengan page setup: 4 – 3 – 4 – 3  (kiri-kanan-atas-bawah).
6. Kirim novelmu ke email: novelmotogp2014.divapress@gmail.com dengan subjek#NovelMotoGP2014.
7. Badan email dibiarkan kosong. File tulisanmu diattach.
8. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Penerbit DIVA Press dan follow Twitter @divapress01 @edi_akhiles @de_teens
9. Buat status di wall FB kami dan tweet yang isinya “Saya udah kirim novel tuk lomba #MotoGPSepang janji nggak bobok cc @divapress01 @de_teens @edi_akhiles @KampusFiksi”

Penjurian:
1. Penjurian akan dilakukan maksimal 60 hari hari setelah penerimaan naskah terakhir.
2. Juri akan memilih 3 novel terbaik dengan hadiah sertifikat + free nobar live MotoGP 2014 langsung di Sepang Malaysia + paket buku. 3 novel terbaik tersebut akan pula mendapatkan MoU profesional untuk penerbitannya + kesempatan menulis 1 novel lagi dengan pola bimbingan untuk kami terbitkan selanjutnya. Selain 3 terbaik itu, kami pun akan memilih novel-novel yang baik tapi belum lolos 3 besar untuk kami terbitkan dengan MoU profesional pula.
3. Semua naskah yang dikirimkan otomatis kami anggap bersetuju untuk diterbitkan dengan ketentuan tersebut. Naskah yang dikirimkan tidak boleh sedang diikutkan lomba lain, atau terikat dengan pihak lain, atau pernah dipublikasikan, termasuk di sosmed seperti blog atau FB.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
5. Hadiah nobar tersebut tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau pun diuangkan.
6. Semoga yang lolos lomba #NovelMotoGP2014 ini, jika masih jomblo segera mendapatkan kekasih. Jika sudah pacaran, semoga segera dilamar. Jika sudah dilamar, semoga segera dinikahin. Jika sudah dinikahin, semoga segera dikarunia anak yang shalih/shalihah. O ya, nyaris lupa, jika sedang LDR-an, semoga segera disatukan di dunia nyata, bukan maya (doa tulus kami senantiasa tercurah untuk kalian).

Tunggu apa lagi? Tips aja nih, berhentilah jadi DL-er, karena itu nggak memberimu waktu cukup untuk self editing sehingga sulit untuk bersaing.

sumber : facebook.com/penerbitdiva

Lomba Menulis Novel Bertema "Kearifan Lokal" Berhadiah Travelling ke Lombok

            Setiap kali kau mengunjungi sebuah daerah baru, kau akan selalu menemukan view-view yang eksotik. Bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Itulah sebabnya, traveling itu memperkaya pengetahuan dan hati sekaligus. Orang yang galauan mulu, marahan mulu, pundungan, mutungan, pastilah salah satu sebabnya karena ia kurang jalan-jalan. At least, kau akan mengerti bahwa hidup yang melulu rutenya kost-kampus atau kost-kantor itu sangat monoton. Sesekali, kau harus keluar, runaway, make your self lost, side seeing, think about God, universe, and various lifes.Traveling menjawab semua itu.


foto: Suasana salah satu pantai yang masih sangat alami di Lombok Barat *elapiler

 Lombok adalah salah satu destinasi traveling yang amazing. Singkirkan judgment-mu bahwa kau sudah bisa membayangkannya karena ia takkan jauh berbeda dengan pantai-pantai yang pernah kau datangi. Tidak. Every place has its memory, life, and story.

Pengin traveling ke Lombok? Free lagi?

Ikutin lomba satu ini. Why should I do this for you? Cause I do really love young people!. Ada tiga seat nih disediakan buat kalian….

****
Lomba ini adalah lomba menulis novel pribadi (personal), bukan rame-rame. Terbuka untuk umum segala usia. Perhatikan ketentuan-ketentuannya ini:

Syarat teknis:
1. Karakter naskah novel umum (fantasi tidak  disertakan dulu di sini). Segmen teenlit atau young adult *pilih salah satu). Tidak mengandung SARA. Tidak boleh ada plagiasi sedikit pun, apalagi banyak pun.
2. Gunakan gaya bahasa yang easy reading. Penyajian ringan. Perhatikan, novelmu harus memuat nilai-nilai inspiratif di dalamnya. Tentu dengan style novel, bukan kultum.
3. Keunikan idemu akan sangat diperhatikan. So, jangan ambil ide yang jadul. Harus mengambil setting dalam negeri. Kearifan lokal alias local wisdom-nya harus hidup. Pilihlah setting yang unik, tidak pasaran. Kekuatan detail setting harus diperhatikan betul. Lokal wisdomnya bebas asal masih masuk wilayah Nusantara, tidak harus lokal wisdom daerah Lombok.
4. Berlaku hanya dari tanggal 15 April 2014-15 September 2014.
5. 1 orang hanya boleh mengirim 1 naskah. Tulisan diketik dengan font Times New Roman ukuran  12 pts spasi ganda (spasi 2), antara 200-300 halaman (sudah termasuk biodata dan alamat lengkapmu + sinopsis ceritanya). Ukuran kertas A4 dengan page setup: 4 – 3 – 4 – 3  (kiri-kanan-atas-bawah).
6. Kirim novelmu ke email: novellombok.divapress@gmail.com dengan subjek #TravelingLombok.
7. Badan email dibiarkan kosong. File tulisanmu dilampirkan via attachment.
8. Peserta diwajibkan LIKE fanpage Penerbit DIVA Press dan follow Twitter @divapress01 @edi_akhiles @de_teens @KampusFiksi
9. Buat status di wall FB kami dan tweet yang isinya “Kamu gemesin bikin aku kirim novel lomba #TravelingLombok janji nggak takut ikan cc @divapress01 @edi_akhiles @de_teens @KampusFiksi”

Penjurian:
1. Penjurian akan dilakukan maksimal 60 hari hari setelah penerimaan naskah terakhir.
2. Juri akan memilih 3 novel terbaik dengan hadiah sertifikat + free traveling Lombok + paket buku. 3 novel terbaik tersebut akan pula mendapatkan MoU profesional untuk penerbitannya + kesempatan menulis 1 novel lagi dengan pola bimbingan untuk kami terbitkan selanjutnya. Selain 3 terbaik itu, kami pun akan memilih novel-novel yang baik tapi belum lolos 3 besar untuk kami terbitkan dengan MoU profesional pula.
3. Semua naskah yang dikirimkan otomatis kami anggap bersetuju untuk diterbitkan dengan ketentuan tersebut. Naskah yang dikirimkan tidak boleh sedang diikutkan lomba lain, atau terikat dengan pihak lain, atau pernah dipublikasikan, termasuk di sosmed seperti blog atau FB.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
5. Hadiah traveling Lombok tersebut tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau pun diuangkan.
6. Semoga yang lolos lomba #TravelingLombok ini, jika masih jomblo segera mendapatkan kekasih. Jika sudah pacaran, semoga segera dilamar. Jika sudah dilamar, semoga segera dinikahin. Jika sudah dinikahin, semoga segera dikarunia anak yang shalih/shalihah. O ya, nyaris lupa, jika sedang LDR-an, semoga segera disatukan di dunia nyata, bukan maya (doa tulus kami senantiasa tercurah untuk kalian).

Tunggu apa lagi? Tips aja nih, berhentilah jadi DL-er, karena itu nggak memberimu waktu cukup untuk self editing sehingga sulit untuk bersaing.

dikutip dari sini

Selamat berkarya :D

Setiap Perpisahan Menyisakan Luka

Friday, 4 April 2014
Jumat, 04 April 2014, Pak FX Iswanto (guru Fisika berprestasi milik SMAN 1 Purwakarta, milik siswa-siswi SMANSA, milik keluarganya, miliknya sendiri) baru saja mengucapkan sejumlah kalimat magis yang membuatku sadar akan rahasia waktu.

"Kapan ada bimbel Fisika lagi?" beliau bertanya pada anak-anak XII IPA 2. Semenjak UAS berakhir dua pekan yang lalu, kelas XII IPA hanya mendapat bimbingan belajar enam mata pelajaran yang di-UN kan saja : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Terjadi sedikit perdebatan sebelum seorang siswi di barisan terdepan menyahut yakin, "Kamis dan Jumat, Pak,"

Pak FX tampak mengangguk dengan mata menerawang. Beliau menghela napas seraya menyapukan pandangan ke seisi kelas. "Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kita."

Hening.

"Kayaknya minggu depan KBM sudah gak efektif lagi. Tanggal 9 ada PEMILU, dan ada kemungkinan kalian diliburkan beberapa hari."

Sampai di situ aku jejingkrakan dalam hati.

"Maka dari itu, Bapak ucapkan maaf yang sebesar-besarnya jika selama satu tahun ini banyak sekali kesalahan dalam mengajar kalian. Bapak hanya manusia biasa ya, pasti sering bikin salah."

Aku tersenyum berdosa. Seharusnya kami yang meminta maaf. Anak-anak XII IPA 2 lah yang selama satu tahun ini banyak berbuat salah pada Pak FX. Sebagian besar di antara kami memilih mengabaikan ketika beliau menerangkan di depan kelas. Tindakan pengabaian yang terang-terangan mulai dari terkantuk-kantuk, mengobrol dengan teman sebangku, sampai ada yang nekat memainkan ponsel. Anehnya, Pak FX tidak pernah marah, beliau hanya pernah sekali 'pudung', itu pun di semester satu saja.

"Selamat menghadapi UN. Kalian jangan takut, jangan merasa tegang. Kalian pasti bisa menghadapinya dengan baik. Toh soal UN begitu-begitu aja, kan? Kita sudah sering latihan, tinggal banyak berdoa saja. Saya pasti bantu, kok. Minimal bantu dengan doa."

Kami tertawa.

"Lagi pula Fisika hari terakhir kan? Jadi tegangnya sudah habis untuk yang hari-hari pertama. Ya sudah. Bapak pamit dulu. Selamat UN!"

Ucapan Pak FX mau tak mau membuatku terkesima beberapa saat.
UN... Sebentar lagi sudah mau UN ya... pikirku tak sadar.

Jika UN adalah kali terakhir aku berada di sekolah tercinta sebagai siswa yang tengah menuntut ilmu, maka dalam waktu dekat aku akan berpisah dengan anak-anak IPA 2 yang sulit kompak ini. Jahatnya, aku senang berpisah dengan mereka. Tapi sejujurnya sedih juga kehilangan masa putih-abu yang absurd ini.

Tiga kali mengalami momen perpisahan sekolah selalu menyisakan sedikit pedih dalam hati. Mendadak tercipta secuil hampa saat sadar kami mungkin tidak akan bertemu kembali, tidak akan berkumpul seperti ini lagi, tidak akan saling bermusuhan lagi. Dan hei, ini sudah di penghujung SMA! Dalam waktu dekat masa ababil dan alay-ku akan segera berakhir. Mustahil mengulang masa remaja yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Menyadari itu semua selalu membuat otakku mendadak kosong, hingga rasa mellow menguasai.

Ingin rasanya aku menangis. Terutama di kala mendengar ucapan-ucapan perpisahan dari guru seperti tadi. Ucapan mereka bagaikan peringatan masa-masa indah-tak indahku di SMA akan segera berakhir. Sejenak terjadi kilas balik dalam otakku. Kembali terbayang kali pertama aku menginjakan kaki di sekolah yang dulu hanya merupakan impian bagiku. Kemudian serpihan-serpihan kenangan tak beraturan lain mulai berputar di sana, menciptakan rasa sesak tak terdefinisi. Aku rindu, bahkan sebelum berpisah.

Waktu tiga tahun benar-benar terasa singkat ya.

Kendatipun tidak dekat dengan Pak FX, aku tetap ingin menangis mendengarnya meminta maaf serta mengucapkan selamat tinggal. Apalagi kala teringat dosa-dosaku yang juga sering mengabaikan pelajarannya selama satu tahun ini.

Aku berdosa sekali, Pak.

Perpisahan, dengan siapapun itu, selalu menyisakan luka di hati kita walau hanya sebesar biji jagung. Ada saat di mana kita akan merindukan momen-momen yang terjadi saat ini. Dan biasanya, segala sesuatu terasa berarti setelah kita kehilangannya. OOT sejenak, hal itulah yang membuat aku tidak ingin menyia-nyiakan Fian. Aku tidak ingin merasa mencintainya justru setelah aku kehilangannya, jangan sampai.

Back to topic...
Well, seperti sering orang katakan 'di mana ada pertemuan, pasti ada perpisahan'. Maka aku mesti siap untuk berpisah dengan segala sesuatu yang kutemui di dunia ini. Toh kita masih punya kemungkinan bertemu. Dengan catatan belum terpisahkan ajal tentunya.

So guys, jangan takut untuk berpisah. Don't cry because it's over, but smile because it's happened. 

Terakhir, aku sayang kalian anak-anak Coaster yang sangat menyebalkaaaaaaan!!!!!!!!! >.<

Rasanya Ide Dibajak Itu ...

Wednesday, 2 April 2014
Nyesek. Pas pertama tahu ada yang membajak ide gue, rasanya nyesek sekaleee.
Helo! Secara gitu gue udah susah-payah mikirin mateng-mateng suatu konsep dan baru sempat ditampilkan beberapa waktu saja, namun tanpa diduga seseorang mulai meniru ide gue kemudian memodifikasinya sedemikian rupa hingga tampak jauh lebih keren dari ide aslinya. *Piki Prasetiyo mode on.

Kalian tahu gue memegang sebuah fanpage kepenulisan di facebook. Pertama punya jabatan admin sekitar awal tahun 2012. 

Lomba Menulis Cerpen Tema Bebas by @festivalsastra (DL 30 April 2014)

Tuesday, 1 April 2014

Tema Lomba : Bebas

Penanggung Jawab : Wahyuning Prastiwi (0896 3571 3933)
Pelaksanaan : 1 — 30 April 2014
Syarat Umum :
Lomba diperuntukkan kepada Warga Negara Indonesia.
Lomba terbuka untuk pelajar SMP/SMA/sederajat dan umum,.
Peserta individual atau perorangan (tidak boleh berkelompok).
Peserta membuat naskah cerpennya sendiri dengan tema bebas.
Peserta wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 20.000,00/naskah untuk kategori pelajar dan Rp 25.000,00/naskah untuk kategori umum via transfer ke rekening: BCA a.n. INNEZDHE AYANG MARHAENI 0390851227 atau membayar tunai dengan mendatangi Sekretariat Festival Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM, Jalan Sosio-Humaniora, Sleman,Yogyakarta.
Pengiriman naskah paling lambat tanggal 30 April 2014 pukul 23.59 WIB.
Pengumuman pemenang dilaksanakan pada 18 Mei 2014 melalui akun Twitter @festivalsastra atau akun Facebookhttp://www.facebook.com/groups/festivalsastra/ maupun di blog resmiwww.festivalsastra.blogspot.com.
Syarat Khusus :
Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
Naskah cerpen harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD).
Cerpen belum pernah dipublikasikan dalam bentuk media cetak maupun elektronik serta belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan apapun.
Cerpen diketik pada kertas A4, Times New Roman, 12pt, spasi 1,5, margin 4, 4, 3, 3.
Panjang cerpen 4—7 halaman.
Peserta wajib mengirimkan empat lampiran :
  • Lampiran 1 : Naskah cerpen
  • Lampiran 2 : Formulir pendaftaran yang telah diisi
  • Lampiran 3 : Scan kartu identitas
  • Lampiran 4 : Scan bukti pembayaran.
Pengiriman naskah dapat dilakukan dengan memilih salah satu dari dua cara berikut.
  • Naskah dikirim dengan subject “CerpenFS_(judul)_(pengarang)” via email ke:festivalsastra@gmail.com dengan menyertakan keempat lampiran di atas. Contoh subject: CerpenFS_Menunggu Senja_WahyuningPrastiwi.
  • Mengantar langsung dengan mendatangi Sekretariat Festival Sastra, Jalan Sosio-Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta. 55281 dengan menyertakan keempat lampiran di atas.
Peserta yang tidak melengkapi syarat dan ketentuan akan didiskualifikasi.
Peserta disarankan mem-follow akun Twitter @festivalsastra atau bergabung di Facebook http://www.facebook.com/groups/festivalsastra/ untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan lomba dan mempermudah panitia untuk memberikan informasi terkait peraturan yang ditetapkan.
Cerpen yang dibuat tidak mengandung informasi, berita, fakta, dan pemikiran yang melanggar hukum, etika, dan SARA.
Pemenang lomba akan mendapatkan sejumlah uang tunai dan piagam penghargaan (Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat).
Jika ada pertanyaan, silakan menghubungi:
[t]: @festivalsastra
[e]: festivalsastra@gmail.com
Wahyuning Prastiwi (0896 3571 3933)

Cerpen : Gaun Lingkan ~ By. Mia Arsjad

Keren banget. Gaun vintage yang membalut tubuh manekin di balik etalase itu semakin hari semakin keren aja. Belum lagi bros unik dan tali pinggang keren yang bakal kadi bonusnya kalau baju itu dibeli. Diskon 50%! Itu yang paling bikin Lingkan ngiler. Dari harganya yang sekitar satu jutaan (pasti mahal dong, kan gaun impor desainer!) sekarang jadi (cuma) lima ratus ribu! Tetap mahal sih, tapi untuk gaun bermerek sebagus itu kayaknya harganya wajar-wajar aja deh.

Lingkan membuka dompet putihnya. Hasil kumpul-kumpul uangnya baru empat ratus ribu. Hmmm… kayaknya bulan depan dia sudah bisa membeli gaun itu! Seminggu lagi akhir bulan, dia bisa langsung mencomot seratus ribu dari uang bulanannya, dan gaun keren itu bakal membalut tubuh rampingnya di prom nite nanti. Dijamin, Wisnu pasti terbengong-bengong kagum.

Langkah kaki Lingkan mendekati pintu masuk toko. Ia melirik ke kiri. Gadis kecil itu lagi. Kalau ditilik-tilik, usianya kira-kira masih sebelas atau dua belas tahun. Seingat Lingkan, anak itu sering mengantarkan kue ke kantin sekolahnya. Biasanya dengan seragam SD, lengkap dengan topi dan dasi merah yang dulu Lingkan benci setengah mati.

Sudah hampir dua minggu sejak butik kecil di dekat sekolah Lingkan ini memasang reklame diskon, anak itu sering kelihatan duduk di trotoar depan toko. Nyaris berbarengan dengan Lingkan yang hampir tiap hari parkir di depan toko itu cuma untuk memastikan gaun itu masih ada.

Lingkan mendorong pintu kaca toko berdesain klasik itu.

“Siang, Mbak…,” sapa si pramuniaga ramah, jurus jitu menjerat pelanggan. Senyum mengembang sampai gigi nyaris kering.

Lingkan membalas senyum ekstragula si pramuniaga, lalu langsung memandangi manekin berbalut gaun keren itu dengan kagum. Lingkan jadi mirip cicak raksasa karena sibuk berdecak-decak kagum.

“Suka yang itu, Mbak? Itu tinggal satu lho… buatan Yongyong, desainer terkenal dari Cina. Udah banyak yang nanyain. Sejak pertama datang, cuma ada tiga. Yang dua sudah terjual. Ini didiskon, soalnya koleksi Yongyong yang terbaru bakal masuk. Mbak mesti beli kalo suka. Oh ya, Halle Berry juga punya gaun yang mirip ini…”

“Mbak…!” ujar Lingkan, membuat si pramuniaga nyaris keselek karena kaget, padahal dia lagi asyik meluncurkan jurus kedua, alias promosi heboh besar-besaran ditambah bohong kecil-kecilan.

Sang pramuniaga menatap Lingkan penasaran.

“Kalo saya DP-in dulu, boleh nggak? Buat tanda jadi, gitu….” Entah dari mana idenya, Lingkan mendadak ketakutan bila gaun itu lepas dari tangannya.

“Terus?” sang pramuniaga nggak ngerti.

“Bulan depan saya lunasin, sekalian saya ambil barangnya. Ini uang panjernya….” Lingkan menyodorkan lima lembar lima puluh ribuan dengan tampang maksa tapi memelas.

Kalau ini film kartun, pasti dari kepala si pramuniaga muncul dua tanduk warna merah. Hehehe… kena juga nih umpannya.

“Boleh aja,,,.” Katanya senang.

Lingkan nyengir girang. Dari dalam toko, dia bisa melihat anak SD itu masih duduk di trotoar dan menatap etalase. Jangan-jangan dia juga pengin gaun ini, pikir Lingkan.

***
“Elo serius, Kan, udah manjerin?” tatap Melli takjub.

Lingkan mengangguk mantap. “Lima puluh persen. Dengan kata lain, gaun itu udah punya gue. Setengahnya siihh…”

Melli geleng-geleng kepala heran. “Kenapa nggak bikin aja sih, Kan? Modelnya bisa kita modif, harganya lebih murah.”

Telunjuk Lingkan bergoyanng-goyang di depan hidung Melli. “No, no, no, Melli. Prom nite itu once in a lifetime. Kapan lagi, coba? Gue harus tampil prima. Lagian, gaun itu kan udah didiskon. Harganya udah nggak jutaan lagi, kan?” Lingkan membela diri.

Melli angkat bahu. “Ya deeeh… terserah.”

Sementara itu pikiran Lingkan sudah melayang ke mana-mana, membayangkan gaun keren itu membalut tubuhnya. Kayaknya dia harus cepat-cepat mencari kalung, tas, juga sepatu yang cocok dengan gaun itu. Jangan sampai dooong, gaunnya keren tapi sepatunya nggak matching.

“Tuh dia gaunnya, Mel!” Lingkan menunjuk gaun itu dengan semangat. Melli mau-mau aja waktu diajak pulang bareng demi melewati toko itu. Dia penasaran juga sih. Apa sih yang bikin Lingkan sebegitu penasarannya?

Melli memandangi gaun itu dari luar etalase. Pramuniaganya tersenyum dan melambai sekilas ke arah Lingkan. Lalu jempolnya terangkat seolah berkata, “Tenang ajaaa…”

Lingkan melirik trotoar. Hari ini juga anak itu ada. Matanya menatap lurus-lurus, seakan menembus kaca etalase dengan tatapan kepingin. Wah, boleh juga seleranya. Dua sama-sama suka gaun itu! Hebat! Gaun itu memang keren sih!

“Bagus nggak?” bisik Lingkan.

Melli mengangguk basa-basi.

“Kok gitu sih, Mel?”

“Ya bagus sih. Tapi gue rasa… bikin juga bisa. Paling cuma dua ratus ribu. Lo bisa hemat lebih dari setengahnya.”

Lingkan cemberut.

***

Wisnu senyam-senyum mendengar Lingakan nyerocos soal kostum pesta. Obsesi Lingkan untuk menjadi prom queen makin menggila, dan Wisnu mau nggak mau harus jadi pangerannya.

“Jangan lupa ya, Nu… Kamu pake baju yang aku pilih kemaren.”

Wisnu mengangguk. “Iya, Bos… Kan masih lama. Belum tentu nanti baju itu masih cukup,” godanya.

Lingkan melipat kedua tangannya di dada. “Kalo gitu, mulai hari ini kamu diet,” katanya sadis.

“Apa?”

“D-I-E-T. Diet. Pokoknya baju itu harus muat untuk nanti. Jangan sampai semuanya hancur dong, Nu… Ya, please?”

Demi melihat sang kekasih yang memelas, akhirnya Wisnu mangangguk lagi.

“Oh ya, Nu.”

“Apa lagi?”

“Kamu juga nanti harus dirias dikit. Biar nggak pucet.”

Haaaaaah???

***

Lingkan melirik etalase toko tempat gaun itu membalut manekin cantik yang anggun. Oh ya, Lingkan sengaja memperbolehkan si pelayan tetap memajang gaun itu sampai nanti dia ambil. Kan keren, kalo ada yang nanya jawabnya, “Oh maaf, Bu, Mbak, Neng, The, Zus… tapi gaun ini sudah ada yang punya.” Lingkan jadi senyam-senyum sendiri.

Saat Lingkan mengagumi si gaun impian, sang pramuniaga melambaikan tangan di sela-sela kesibukannya mempersiapkan toko yang akan buka dua jam lagi. Sejak membayar gaun itu, hampir setiap pergi dan pulang sekolah Lingkan mampir cuma untuk mengagumi.

Langkah Lingkan sempat terhenti. Gadis cilik itu lagi. Dia tetap duduk di trotoar depan etalase, menatap lurus-lurus ke arah kaca. Bedanya, karena ini masih pagi, dia masih membawa baskomnya yang berisi aneka kue.

***

“Taraaaaa!” seru Lingkan heboh sambil mengangkat sepucuk amplop cokelat.

Melli mengernyit bingung. “Apaan tuh?”

Uang bulanan gue,” katanya bangga.

“Terus…?” Melli makin bingung. Kayaknya nggak ada satu hal pun yang membuat ia harus ikut senang Lingkan dapat uang bulanan. Lagian, bukannya tiap bulan juga dapet? Atau… mungkin hari ini Lingkan mau melengkapi SKU (itu lho, buku kecil pramuka yang ada perintah-perintahnya) miliknya waktu SD, tentang “butir-butir” berbuat baik terhadap sesama. Terus sekarang dia mau traktir Melli.

Bibir Lingkan langsung manyun, pasang aksi demo seolah-olah Melli baru saja melupakan peristiwa penting dunia seperti ehm… uhm… penentuan hasil fosil menusia purba lagi joget, mungkin?

“Melliiii… Hari ini gaun itu bakal gue luuuuunaaaaasssin. Artinya, gaun itu bakalan sah jadi milik gue.”

Melli mengangguk. Cuma itu toh? Kirain apa, batinnya.

“Horeee…!” sorak Melli garing.

Dengan sebal setengah mati Lingkan mencubit hidung Melli. Kejam!!!

***

Anak itu masih duduk di trotoar depan etalase toko waktu Lingkan datang. Pastinya dia sudah menyetorkan dagangannya dan sudah pulang sekolah. Matanya masih lurus menatap etalase dengan tatapan kepingin.

Lingkan berbelok ke arah toko. Tapi sebelumnya, rasanya dia perlu ngobrol sejenak dengan gadis cilik itu.

“Hai…,” sapa Lingkan.

Gadis itu melirik Lingkan dan tersenyum sekilas tapi manis. “Hai.”

“Aku Lingkan. Boleh duduk di sini?” Lingkan meniup debu di atas trotoar.

Gadis itu mengangguk. “Mutia…,” katanya pelan.

Mata Mutia kembali menatap kaca etalase setelah memperkenalkan dirinya pada Lingkan.

“Mutia, Kakak mau beli gaun itu…,” kata Lingkan hati-hati. “Eh, Kakak tau kamu juga suka. Tapi itu belum cukup, Mutia…” Lingkan memberi jeda, menebak-nebak ekspresi Mutia. Tampaknya aman. Gadis itu menatap Mutia dengan tenang. “Tapi Kakak janji. Nanti, kalau kamu sudah besar, gaun itu boleh kamu pinjam. Nggak apa-apa kan, Mutia?”

Mata gadis itu membulat. Rautnya tampak bingung. Setengah mati Lingkan berdoa semoga anak itu nggak mendadak menangis.

“Kakak mau beli gaun itu?”

Lingkan mengangguk.

“Gaun itu memang bagus. Pasti cocok buat Kakak. Nanti… kalau Mutia punya uang dari nganterin kue, Mutia juga mau beli yang mirip kayak gaun itu. Yang ukurannya kecil.” Mata Mutia bersinar lucu. “Tapi kalo sekarang, kayaknya Mutia nggak cocok pake gaun model begitu. Gaun itu memang cocok buat Kakak. Apalagi sudah tiap hari Kakak datang ke sini,” celotehnya.

Lingkan jadi bingung. “Kamu nggak sedih?”

“Sedih? Kenapa?”

“Soalnya Kakak yang beli gaun itu, bukan kamu.”

Kucir Mutia bergoyang-goyang saat dia menggeleng. “Mutia nggak pengen gaun itu kok.”

HAH? “Lho? Bukannya tiap hari kamu ada di sini mandangin gaun itu, sama seperti Kakak?”

Mutia menggeleng lagi. “Bukan itu, Kak.”

Lingkan menatap Mutia.

“Tapi selimut kotak-kotak itu.” Mutia menunjuk seonggok benda yang ditumpuk begitu saja di keranjang obralan. Persis di belakang manekin itu. “Ibu Mutia minggu depan ulang tahun. Mutia pingin beliin itu, makanya Mutia ngumpulin uang. Kasian… selimut Ibu udah bolong-bolong dan tipis. Ibu kan sakit-sakitan. Mutia pengin beliin itu, soalnya bagus… dan paling murah di sini. Tiap hari Mutia diam di sini, buat mastiin masih ada atau nggak, Kak…”

Penjelasan Mutia membuat Lingkan terenyak. Ternyata selimut obralan yang murah itu! dan Mutia mau membelikannya buat ibunya yang sedang sakit, juga karena selimut ibunya sudah bolong-bolong.

“Uang Mutia kurang sedikit lagi… Mungkin minggu depan…”

***

“Makasih ya, Mbak? Ini kembaliannya.” Pramuniaga toko tersenyum ramah.

Lingkan menerima bungkusan belanjaan beserta uang kembaliannya. Ia melangkah ke luar toko. Rasanya lega sudah terbeli. PLONG!

Lingkan melangkah kea rah Mutia yang masih duduk di trotoar.

“Mutia, ini buat ibu kamu. Semoga cepat sembuh ya? Terus… selamat ulang tahun buat ibu kamu.”

Butir air mata mengalir di pipi Mutia. Matanya menatap tak percaya. Selimut itu sekarang ada di tangannya.

“Makasih, Kak…”


Lingkan tersenyum senang. Entah apa yang terjadi. Tadi, mendadak saja, dia merasa selimut kotak-kotak itu lebih pantas dibeli daripada gaun mahal yang menempel ketat di manekin.